Lalu apa artinya bagi rakyat? Sederhana tapi sakral, antrean solar seharusnya jadi cerita lama.
Truk tak lagi parkir semalam di SPBU, petani tak lagi panik menjelang musim tanam, nelayan tak lagi bertaruh nasib di pompa bensin.
Tentu, distribusi tetap harus dijaga, subsidi harus diawasi, dan tangan-tangan nakal harus disikat. Tapi fondasinya sudah dipasang. Ini bukan janji kosong, ini hasil masak lama.
Soal bensin, ceritanya memang belum tamat. Pertalite masih impor komponen, Pertamax juga belum sepenuhnya mandiri. Targetnya 2029, stop impor bensin, potensi hemat Rp250 triliun per tahun. Tapi hari ini, satu bab besar sudah ditutup, solar.
Ditambah lagi senjata hijau bernama biodiesel sawit. Program B40 sejak 2025 membuat impor makin menyusut, petani sawit tersenyum, devisa aman. Solar tak lagi sekadar cairan hitam, tapi simbol kedaulatan.
Maka wajar kalau kebijakan ini dibaca sebagai pesan Politik yang jelas, Pemerintahan Prabowo bukan pemerintahan yang nyaman bergantung. Beras disetop impor, solar disetop impor. Kalau begini ritmenya, impor-impor lain patut waswas.
Dulu solar kita seperti anak kos yang tiap akhir bulan nelpon orang tua di Singapura. Sekarang sudah pindah rumah, punya dapur sendiri, kompor besar, gas penuh.
Kalau kebijakan ini konsisten, satu hal bisa kita harapkan bersama, SPBU kembali jadi tempat isi solar, bukan tempat uji kesabaran.
(Ketua Satupena Kalbar)































































































