BANDA ACEH – Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, Anwar Abbas, menyoroti tajam rencana keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace) yang digagas Amerika Serikat.
Sorotan utama tertuju pada kabar bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan menyetorkan iuran sebesar Rp16,7 triliun untuk rekonstruksi Gaza.
Anwar mengingatkan pemerintah agar waspada terhadap apa yang ia sebut sebagai “akal bulus” Donald Trump dan Benjamin Netanyahu di balik pembentukan dewan tersebut.
Logika Terbalik: Perusak Harusnya Membayar
Menurut Anwar, meski bangsa Indonesia dikenal dermawan dan tidak pelit membantu negara lain, logika pembebanan biaya rekonstruksi ini dinilai janggal.
“Kalau duit kita cekak, lalu kita akan menyumbang, maka besaran sumbangan kita tentu harus disesuaikan dengan kemampuan kantong,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada inilah.com, Kamis (29/1/2026).
Lebih substansial lagi, ia menegaskan bahwa tanggung jawab moral dan finansial untuk membangun kembali Gaza seharusnya berada di pundak Israel dan Amerika Serikat.
“Semestinya dana itu disediakan sepenuhnya oleh Israel dan AS. Karena merekalah yang telah menghancurkan dan memporak-porandakan Gaza. Lalu mengapa sekarang negara-negara anggota Dewan Perdamaian yang diminta iuran?” kritiknya.
Skenario Licik “Keamanan”
Anwar juga meragukan masa depan kedaulatan Palestina di bawah skema ini. Ia mempertanyakan jaminan Israel akan menyerahkan Gaza dan mengakui kemerdekaan Palestina setelah pembangunan selesai.
“Berdasarkan fakta yang ada, rasanya hal demikian sangat tidak mungkin,” tegasnya.
Ia memprediksi, isu “keamanan” akan terus dijadikan hujah (alasan) oleh Israel untuk tidak menyerahkan wilayah. Anwar bahkan mencurigai potensi skenario bendera palsu (false flag).
“Untuk memperkuat alasan keamanan, Israel dan AS bisa dengan mudah membuat skenario meledakkan bom di Tel Aviv atau kota lain. Akhirnya, Gaza dan tanah Palestina yang sudah dirampas tetap mereka kuasai,” paparnya.
Ambisi “Greater Israel”
Di akhir analisisnya, tokoh Muhammadiyah ini meyakini bahwa Israel tidak berniat mengembalikan sejengkal pun tanah Palestina. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan ambisi lawas zionisme untuk mendirikan Israel Raya.
“Saya sangat yakin tidak ada tanah yang akan diserahkan kembali. Karena mereka punya cita-cita mendirikan negara Israel Raya yang wilayahnya meliputi seluruh Palestina, sebagian Mesir, Saudi, Irak, hingga Suriah dan Yordania,” pungkas Anwar Abbas.
































































































