BANDA ACEH – Perluasan kebun sawit di Papua memiliki potensi manfaat yang besar bagi masyarakat. Mulai dari membuka lapangan kerja, mengurangi ketimpangan, memacu pertumbuhan ekonomi daerah, hingga mendorong kemandirian energi nasional. Di tengah sempitnya lapangan kerja di Papua, perkebunan sawit bisa menjadi solusi bagi warga. Industri ini mampu menyerap lapangan kerja dari hulu hingga hilir.
Menurut perhitungan mantan Wakil Gubernur Provinsi Papua, Alex Hasegem, SE, jika terbuka 2 juta hektar lahan kelapa sawit di Papua, dimana 50 persen-nya itu dialokasikan untuk petani plasma, maka dapat memberikan kesempatan kerja kepada 250.000 Kepala Keluarga Orang Asli Papua (OAP).
Kemudian, jika setiap keluarga itu terdiri dari 4 orang, maka kehadiran perkebunan sawit bisa menghidupi sekitar 1 juta orang Papua. Ini angka minimal dari petani saja. Belum dari industri pengolahan hingga distribusinya ke pasar. Pasti angkanya lebih besar.
Terbukanya lapangan kerja itu pasti akan mendorong peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat Papua. Pun akan mengurangi kemiskinan di kalangan Orang Asli Papua.
Tak hanya itu, kehadiran sawit juga berpotensi mengurangi ketimpangan sosial dan ekonomi di Papua. Berdasarkan studi PASPI (2025) dalam jurnal berjudul “Perkebunan Sawit Rakyat Indonesia: Perkembangan, Kontribusi, dan Tantangan” mengatakan bahwa perkebunan kelapa sawit berkontribusi dalam menurunkan ketimpangan sosial ekonomi karena sektor ini memiliki distribusi pendapatan yang relatif lebih merata.
Studi Syahza et al. (2019; 2021) juga menegaskan bahwa pembangunan perkebunan kelapa sawit mampu mengurangi ketimpangan antar-golongan masyarakat dan mempersempit ketimpangan ekonomi antar-kabupaten atau kota di Indonesia.
Kemudian, kehadiran perkebunan sawit juga akan meningkatkan pendapatan daerah di Papua. Berdasarkan banyak penelitian, daerah-daerah sentra sawit umumnya memiliki pertumbuhan ekonomi (PDRB) yang lebih cepat apabila dibandingkan dengan kabupaten non-sentra.
Selain itu, kehadiran sawit juga berkorelasi dengan penurunan kemiskinan di pedesaan. Bahkan penurunan kemiskinan di daerah sentra sawit itu lebih cepat dibandingkan daerah non-sentra sawit.
Terakhir, kehadiran sawit di Papua juga dapat menopang kemandirian energi nasional yang tengah dicanangkan Presiden Prabowo. Sawit, sebagaimana singkong dan tebu, akan menjadi bahan bakar nabati yang akan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil.
Ke depan, laju perkembangan global akan mengarah pada energi terbarukan, seperti sawit, tebu atau singkong. Dan, kita punya sumber daya yang melimpah di Papua-sesuatu yang tidak dimiliki negara lain.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Nabi Isa 'alaihissalam, yang disebut sama org kafir sebagai Yesus…
Keren Bank Aceh Syariah. Dari waktu ke waktu penuh inovasi.…
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Beredar Narasi di Tentara AS,…
Bank Aceh Siapkan Reward Khusus…
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Indonesia, khususnya Aceh, perintah Allah dan Rasulullah itu, level urgensi…
😥 Inna lillahi wa Inna ilahi raaji'un
😂 Mana pernah ngaku penjahat.
😂 Mereka orang-orang penyembah berhala yang terlalu delusional…
Iran is the best 👌 Amerika Serikat dan Teroris…
Berita Terpopuler