NASIONAL
NASIONAL

Rekonstruksi Pemikiran Prabowo dan Tantangan ke Depan

OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

   

PROF SITI ZUHRO telah menyebutkan nama saya ada dalam pertemuan lima tokoh nasional bersama Presiden Prabowo Subianto di kediaman pribadinya di Jalan Kertanegara 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat 30 Januari 2026, dalam podcast dia di Madilog kemarin. 

Bagi saya, itu adalah pertemuan kedua yang intensif dengan Prabowo, sebelumnya saya sendiri juga sudah diundang ke Hambalang pada 9 Januari 2026 bersama Jumhur Hidayat, selama 7 jam. 

Posisi saya yang selama ini dikenal sebagai aktivis sekaligus penulis tentu penting untuk menjelaskan apa yang saya ketahui dari pertemuan tersebut. Meskipun sesungguhnya dalam beberapa podcast, saya sudah ceritakan dalam gaya bahasa tidak langsung.

Nasionalisme Prabowo

Nasionalisme Prabowo berakar dari kesadaran historis bahwa Indonesia sudah ada sejak era, Majapahit, atau bahkan sebelumnya. 

Berita Lainnya:
Eggi dan DHL, Amunisi Baru Jokowi Melawan Roy Suryo?

Artinya eksistensi bangsa kita bukan sebuah fenomena baru, yang gampang terombang-ambing dalam pengaruh global, khususnya penetrasi budaya barat dan juga Asia Timur. Seperti, misalnya India dan China, Indonesia bisa mengarungi masa depannya dengan melanjutkan eksistensi di masa lalu.

Nasionalisme Prabowo Subianto juga menerima sintesis yang digagas Sukarno pada 1926, bahwa akulturasi telah berlangsung dari kebudayaan Islam dan sosialisme barat pada ke Indonesian yang ada saat ini. 

Namun, Indonesia tetap menjadi Indonesia sebagai inti eksistensinya. Indonesia tidak boleh merasa kebudayaan kulit putih maupun Arab lebih tinggi dari dirinya. 

Dan menurut Prabowo, hal itu merupakan tugas sejarah bangsa kita mengembalikan kebanggaan kebangsaan kita, secara berulang-ulang.

Berita Lainnya:
Label Tersangka Langsung Rontok cuma dengan Sowan ke Solo

Dalam konteks ke Indonesian, Prabowo juga mendorong istilah-istilah pribumi dan Islam menjadi arus utama. Misalnya, Prabowo menghendaki agar ekonomi nasional dikendalikan secara seimbang oleh pribumi, Islam dan keturunan China. Tanpa keseimbangan ini menurut Prabowo nasionalisme kita akan semu dan rentan hancur.

Demokrasi

Dalam urusan demokrasi Prabowo ingin bangsa kita tidak mereferensikan diri pada ajaran barat. 

Menurutnya, Barat adalah rezim berwajah ganda. Mereka meneriakkan HAM, tapi membiarkan pembantaian massal di Palestina dll. Mereka berteriak demokrasi, tapi memelihara rezim-rezim boneka yang otoriter di mana2.

Ajaran bangsa Indonesia, dalam berdemokrasi, menurut Prabowo, adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Tidak semua rakyat harus mengklaim dirinya sebagai “suara Tuhan”. Sebab, rakyat yang kurang berpendidikan merupakan korban manipulasi

image_print
1 2
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Reaksi

Berita Lainnya