BANDA ACEH – Publikasi dokumen terbaru Epstein Files Transparency Act mengungkap berbagai materi penyelidikan yang dikumpulkan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ), di antara ribuan berkas yang dideklasifikasi tersebut, terdapat sejumlah korespondensi dari pihak eksternal yang memuat klaim-klaim ekstrem terhadap pejabat publik, termasuk mantan Presiden Joe Biden.
Berdasarkan catatan dari otoritas keamanan terkait, salah satu dokumen memuat email yang dikirimkan kepada agen FBI pada April 2021 oleh seorang individu yang diidentifikasi sebagai “Charles”.
Pesan tersebut memuat narasi spekulatif yang menyatakan bahwa Joe Biden telah meninggal pada tahun 2019 dan posisinya telah digantikan oleh pihak lain.
Pengirim pesan juga menyinggung penggunaan teknologi “kuantum” dan prosedur pengadilan militer rahasia dalam klaimnya.
Secara faktual, kemunculan narasi ini dalam dokumen resmi bukan merupakan hasil temuan intelijen atau validasi dari pemerintah AS.
Sebaliknya, berkas tersebut merupakan kumpulan data mentah dari laporan masyarakat yang masuk ke dalam sistem pengawasan federal selama penyelidikan jaringan Jeffrey Epstein berlangsung.
Pakar hukum dan Pengamat Politik menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan bukti medis atau catatan kenegaraan yang mendukung klaim tersebut.
Narasi mengenai “penggantian figur kepemimpinan” ini telah lama dikategorikan sebagai disinformasi yang tidak berdasar.
Tercatat bahwa penyebaran informasi semacam ini sering kali memanfaatkan celah dari rilis dokumen besar untuk menciptakan kesan kredibilitas, meskipun isi pesan tersebut tidak memiliki basis bukti yang kuat.
Dokumen ini kini menjadi bagian dari catatan publik sebagai bentuk transparansi pemerintah terhadap proses investigasi panjang yang melibatkan berbagai kesaksian dan laporan dari beragam sumber. (*)





























































































