PUSAT Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) kembali mengungkap fakta mencengangkan: anak-anak Indonesia, bahkan sejak usia 10 tahun, telah aktif terlibat dalam transaksi judi online (judol). Temuan ini terkuak melalui laporan Program Mentoring Berbasis Risiko (Promensisko).
Program ini bertujuan memperkuat kapasitas pemangku kepentingan dalam mendeteksi, merespons, dan mencegah tindak pidana pencucian uang berbasis digital. Namun, akar persoalan yang sebenarnya tidak cukup diselesaikan dengan pelatihan teknis semata.
Fenomena ini mencerminkan lebih dari sekadar kegagalan pengawasan orang tua atau lemahnya regulasi. Ini adalah gejala sistemik dari sebuah sistem yang rusak: kapitalisme.
Kapitalisme: Sistem yang Komersialisasikan Segalanya
Kapitalisme adalah sistem yang menuhankan keuntungan. Dalam sistem ini, tidak ada batas moral terhadap apa yang bisa dijual. Selama bisa menghasilkan uang, semuanya sah: rokok, narkoba, seks, bahkan mental anak-anak.
Tidak heran jika saat ini platform judi online menyusup ke ruang digital anak-anak. Mereka hadir melalui game, influencer, animasi cerah, dan sistem hadiah virtual—semua didesain agar adiktif.
Anak-anak tidak lagi dibina, tapi dibidik. Mereka bukan dididik, tapi dijadikan target pasar.
Iklan dan algoritma bekerja layaknya senjata, menyasar anak-anak secara tepat. Di sinilah wajah sejati kapitalisme terlihat: rakus, tidak bermoral, dan haus laba.
Negara Tunduk pada Pasar, Penanganan Tambal Sulam
Pemerintah memang sesekali melakukan pemblokiran situs judol, namun sifatnya tambal sulam. Hari ini diblokir, besok muncul dengan domain baru.
Lebih ironis, beberapa aplikasi berbau judi masih eksis di toko aplikasi seperti tidak ada pengawasan berarti. Tidak ada tindakan tegas terhadap platform yang secara terang-terangan menyesatkan anak-anak.
Ini menunjukkan kebobrokan demokrasi kapitalistik: negara tidak punya ketegasan moral karena tunduk pada kebebasan pasar dan kepentingan investor.
Anak Jadi Korban: Dari Pecandu Jadi Kriminal
Akibatnya sangat nyata. Banyak anak yang:
- Rela mencuri demi top-up saldo
- Menjual barang milik orang tua
- Melawan keluarga demi melanjutkan permainan
Ini bukan hanya soal kecanduan digital. Ini adalah kerusakan moral dan kehancuran generasi. Generasi yang seharusnya menjadi aset masa depan justru dihancurkan oleh sistem hari ini.
Jika anak-anak rusak, maka bangsa sedang menggali lubang kehancurannya sendiri.
Islam: Sistem yang Memuliakan dan Menjaga Anak
Islam memandang anak-anak sebagai amanah, bukan pasar. Al-Qur’an dengan tegas menyerukan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)
Namun, bagaimana orang tua bisa optimal menjaga anak-anak jika mereka sendiri dipaksa bekerja keras oleh sistem ekonomi kapitalistik? Banyak ibu yang harus bekerja di luar rumah demi menutupi kebutuhan hidup, meninggalkan anak-anak dalam pengasuhan teknologi.































































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…