NASIONAL
NASIONAL

Indonesia 80 Tahun: Apakah Akses Listrik Sudah Merata?

BANDA ACEH – Delapan puluh tahun sejak kemerdekaan, Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan signifikan di bidang infrastruktur, termasuk sektor kelistrikan.

Listrik bukan sekadar penerang di malam hari, melainkan juga penggerak roda ekonomi, pendukung pendidikan, serta penopang kesehatan dan keamanan.

Namun, di tengah perayaan kemajuan ini, muncul pertanyaan penting: apakah akses listrik di Indonesia sudah benar-benar merata?

Perkembangan Akses Listrik dari Masa ke Masa

Pada awal kemerdekaan, rasio elektrifikasi Indonesia sangat rendah, bahkan di bawah 10%. Listrik lebih banyak tersedia di kota-kota besar dan pusat industri, sementara desa-desa terpencil mengandalkan lampu minyak atau pelita.
Perkembangan besar mulai terlihat pada era 1970–1990-an, ketika pemerintah mulai membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dan jaringan transmisi yang lebih luas.
Lonjakan rasio elektrifikasi makin terasa pada 2000-an, terutama dengan program “Indonesia Terang” dan perluasan jaringan PLN ke wilayah pedalaman.

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2024 rasio elektrifikasi Indonesia mencapai lebih dari 99%. Angka ini menunjukkan kemajuan pesat, namun tetap menyisakan tantangan di sejumlah wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Mengapa Akses Belum 100%?

Jika melihat angka nasional, seolah-olah listrik sudah merata. Tetapi realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih ada desa-desa yang hanya menikmati listrik beberapa jam dalam sehari. Penyebabnya beragam, antara lain:

  1. Kondisi Geografis yang Menantang
    Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Banyak daerah berada di pegunungan atau pulau-pulau kecil yang sulit dijangkau oleh jaringan listrik konvensional.

  2. Biaya Infrastruktur yang Tinggi
    Pembangunan jaringan listrik di wilayah terpencil memerlukan biaya besar. Tantangan ini diperparah oleh rendahnya jumlah penduduk di beberapa daerah, sehingga investasi menjadi kurang ekonomis.

  3. Ketergantungan pada Sumber Energi Tertentu
    Sebagian wilayah masih bergantung pada pembangkit diesel yang memerlukan pasokan bahan bakar rutin. Ketika distribusi bahan bakar terganggu, pasokan listrik pun ikut terhenti.

  4. Gangguan Alam dan Cuaca
    Banjir, tanah longsor, atau badai sering merusak jaringan listrik di daerah terpencil, membuat perbaikan membutuhkan waktu lebih lama.

Solusi yang Sedang Ditempuh

Pemerintah bersama PLN dan pihak swasta telah mengembangkan berbagai solusi untuk memastikan listrik lebih merata:

image_print
1 2

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website