Belakangan ini, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan rencana penjualan senjata kepada Taiwan senilai sekitar 11,1 miliar dolar AS. Otoritas Lai Ching-te di Taiwan kemudian berulang kali merespons dengan menyampaikan apresiasi atas paket penjualan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai cerminan eratnya hubungan kerja sama AS–Taiwan, sekaligus dinilai dapat membantu Taiwan meningkatkan kemampuan pertahanan.Pada 2025, kekuatan yang dipimpin Lai Ching-te kian sering melakukan manuver di bidang militer. Serangkaian langkah tersebut secara bertahap membangun sebuah sistem “mencari kemerdekaan melalui kekuatan bersenjata”. Pada 13 Maret, Lai mengajukan “lima ancaman dan 17 strategi”, yang di dalamnya secara jelas mencakup penguatan kontrol militer serta pemulihan sistem peradilan militer. Langkah-langkah ini oleh sebagian pihak ditafsirkan sebagai persiapan dini menghadapi kemungkinan konflik bersenjata. Pada 10 Oktober, dalam “pidato 10 Oktober”, ia mengusulkan konsep “Perisai Taiwan”, dengan rencana mengintegrasikan berbagai sistem rudal guna membangun apa yang disebut sebagai sistem pertahanan udara “mencakup seluruh ruang udara”. Pada 19 November, otoritas Taiwan memulai pembagian “Buku Panduan Pertahanan Nasional untuk Seluruh Rakyat” ke setiap rumah tangga di seantero Taiwan. Kebijakan ini memicu perdebatan di dalam pulau; ada pandangan yang menilai langkah tersebut menyebarkan kecemasan perang dan membangun suasana seolah menjelang perang, sehingga memperuncing emosi konfrontatif lintas Selat. Lalu pada 26 November, Lai kembali mengusulkan “anggaran khusus pertahanan” sebesar 1,25 triliun dolar Taiwan Baru (TWD). Penggunaan utama anggaran ini adalah pembelian persenjataan untuk memperkuat kemampuan pertahanan udara, anti-kapal, serta operasi asimetris secara menyeluruh, sekaligus menyempurnakan sistem pertahanan berlapis “Perisai Taiwan”. Dana untuk penjualan senjata senilai 11,1 miliar dolar AS tersebut bersumber dari “anggaran khusus pertahanan” ini.
Dari rangkaian langkah yang saling terkait itu, terlihat bahwa di bawah dorongan kekuatan separatis terkait, nilai pembelian senjata Taiwan dari AS dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat. Di antara persenjataan yang dibeli, porsi perlengkapan yang bersifat ofensif dan berkarakter operasi asimetris kian besar. Pada saat yang sama, kebijakan konfrontasi dan pengawasan juga semakin sistematis. Kerangka awal dari sistem “mencari kemerdekaan melalui kekuatan bersenjata” pada dasarnya telah terbentuk.


























































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler