BANDA ACEH – Bagi banyak warga Iran yang turun ke jalan selama gelombang protes dalam beberapa minggu terakhir, Presiden AS Donald Trump sempat dipandang sebagai sosok “penyelamat”.Keyakinan itulah, menurut para pengunjuk rasa, yang membuat perubahan sikap Trump kemudian terasa seperti sebuah pengkhianatan.
Rasa kekecewaan muncul dari perbedaan antara klaim Trump dan tindakannya di lapangan.
Pada awal kerusuhan, Donald Trump secara terbuka menyuarakan dukungan kepada para pengunjuk rasa Iran dan mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran.
Trump menyatakan di media sosial bahwa bantuan sedang dalam perjalanan dan kemudian mengatakan bahwa Amerika Serikat siap siaga jika demonstran disakiti.
“Para Patriot Iran, TERUS BERPROTES – KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA KALIAN!!! Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar mahal. Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan tanpa akal sehat terhadap para demonstran BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN. MIGA!!!
PRESIDEN DONALD J. TRUMP,” tulis Trump di media sosial, Selasa (13/1/2026).
Banyak warga Iran menafsirkan pernyataan itu sebagai janji dukungan konkret, bahkan kemungkinan intervensi militer.
Namun ketika para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan, pemerintah Iran justru memutus komunikasi dan mengerahkan pasukan keamanan.
Mengutip NDTV, laporan dari berbagai wilayah menggambarkan adanya tembakan penembak jitu, serangan senapan mesin, serta banyak korban tewas dan orang hilang.
Kabar bahwa Departemen Pertahanan AS (Pentagon) memerintahkan sejumlah personel non-esensial meninggalkan pangkalan utama AS di kawasan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai persiapan menuju konflik.
Namun kemudian terjadi perubahan arah.
Trump mengumumkan bahwa kepemimpinan Iran telah meyakinkannya bahwa mereka akan menghentikan pembunuhan dan eksekusi.
Ia pun mengucapkan terima kasih.
“Saya sangat menghargai fakta bahwa semua eksekusi gantung yang dijadwalkan kemarin (lebih dari 800 orang) telah dibatalkan oleh pimpinan Iran. Terima kasih!
DONALD J. TRUMP
PRESIDEN AMERIKA SERIKAT,” tulisnya di Truth Social, Sabtu (17/1/2026).
Ia juga memberi sinyal bahwa aksi militer AS yang sempat diantisipasi sebagian warga Iran tidak akan dilanjutkan.
Bagi para pengunjuk rasa yang meyakini AS akan campur tangan, pengumuman itu menjadi sebuah kejutan besar.
“Trump bertanggung jawab atas kematian 15.000 orang ini,” kata seorang pengusaha di Teheran kepada majalah TIME yang diterbitkan Minggu (18/1/2026), merujuk pada jumlah korban tewas dalam protes tersebut.






























































































