ADVERTISMENT
NASIONAL
NASIONAL

Gamawan Fauzi Sentil Gus Miftah Sebut Rendang Tak Punya Agama

“Silakan cari dan telusuri, apakah ada masakan Minang/ Padang selama ini yang tak halal?” kata Gamawan.

“Oleh karenanya, kalau ada yang seorang ahli agama mempertanyakan sejak kapan rendang punya agama, maka itu pertanyaan yang amat dungu, bahasa pasar di Minangkabau disebut dengan istilah ‘ongok raya’, atau kelewatan gak ngertinya. Dan, sebagai makhluk berakal, saya sarankan Anda sebaiknya banyak membaca dan belajar sebelum bicara. Jangan asal berkomentar bila tak paham. Apalagi sekadar ingin berbeda/ membelintang,” imbuhnya

Lebih jauh, mantan Bupati Solok itu mengingatkan tidak semua kehidupan manusia bisa diatur oleh hukum. Pemikiran dan tingkah laku manusia yang begitu dinamis, seringkali membuat hukum terlambat mengantisipasi tingkah laku dan pikiran manusia. 

Karena itulah dikenal adanya etik, moral dan fatsoen, kepatutan dan kepantasan, supaya pergaulan manusia tetap harmonis. 

Berita Lainnya:
Wardatina Mawa Tuntutan Nafkah Fantastis Emas dan Uang Rp100 di Gugatan Cerai, Begini Respons Insanul Fahmi

“Bagi orang orang yang ingin memakan daging  babi, silakan saja. Silahkan masak dengan cara apapun, tapi jangan sebut rendang, karena yang namanya rendang sebagai masakan etnik Minangkabau, pasti halal dan harus halal, seperti rendang paru, rendang daging sapi, rendang lokan, rendang pakis dan rendang rendang lainnya yang kini berkembang, tapi semuanya tetap halal,” bebernya

  Ia mengapresiasi Pemda DKI Jakarta dan aparat Kepolisian polisi yang sigap menangani persoalan yang dapat menimbulkan keresahan sosial dalam masyarakat. Pemda dan aparat Kepolisian langsung memanggil pemilik restoran BABIAMBO itu ketika beritanya muncul di media sosial. 

“Sejak semula, saya sudah menduga bahwa si pemilik restoran BABIAMBO, pasti tak paham dengan hal-hal yang saya kemukakan ini, dia sekadar manusia yang mencari uang dengan mangaku berinovasi. Tapi janganlah pula ada yang lain ikut nimbrung melukai hati masyarakat Minang, dengan mencari-cari pembenarannya dengan argumen yang dibuat buat,” ujarnya

Berita Lainnya:
Kapolda: Bripda Dirja Dijemput Saat Shalat Subuh Lalu Dipukuli Hingga Tewas

Bagi masyarakat Minang, tentu semua ini ada hikmahnya. Kilek baliwuang lah ka kaki, kilek  camin lah ka muko. Gabak di hulu tando kan hujan, cewang di langik tando kan paneh. 

Tumbuah di hari sarupo kini nan ko, saatnya untuk berbenah, mencari akal untuk melindungi hal hal yang pantas dilindungi. Jangan sampai terjadi, jalan dialiah urang lalu, cupak diganti urang manggaleh. Lah luluih mako balantai, lah anyuik mangko bapinteh. 

“Langkah semacam itu bukanlah berarti etnik sentris, justru bagian dari tindakan membela Indonesia, karena bukankah Minangkabau adalah juga kekayaan Nusantara? Bahkan yang disebut budaya bangsa itu adalah puncak-puncak budaya daerah,” tandas Gamawan. 

image_print
1 2 3 4
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya