UPDATE

IN-DEPTH
IN-DEPTH

Proteksionisme Eropa Saat Ini Tidak Akan Menjadi Jalan Keluar

PADA 9 Februari, Komite Tinggi Strategi dan Perencanaan, sebuah lembaga penasihat pemerintah Prancis, merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa kekuatan industri Tiongkok tengah menekan Eropa secara signifikan, sehingga industri Eropa menghadapi krisis kelangsungan hidup.

Laporan tersebut merekomendasikan agar seluruh produk asal Tiongkok dikenai tarif tambahan sebesar 30 persen, serta mendorong depresiasi nilai tukar euro terhadap renminbi sebesar 20 hingga 30 persen.

Advertisements
Selamat Hari Tentara Nasional Indonesia ke-81

Pandangan dari lembaga pemikir Prancis tersebut mencerminkan sebagian pola pikir yang berkembang di Uni Eropa.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kebijakan pembatasan terhadap perusahaan Tiongkok telah diperkenalkan dengan dalih “de-risking”, padahal pada praktiknya langkah tersebut cenderung mengarah pada proteksionisme.

Namun, benarkah menutup pintu bagi produk Tiongkok dapat menyelesaikan persoalan Eropa? Jawabannya jelas tidak.

Perang Dagang Eropa

Kekhawatiran sejumlah lembaga pemikir Eropa terhadap perekonomian Tiongkok telah memunculkan resonansi yang cukup luas di dalam Uni Eropa. Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Austria, dan sejumlah negara lain telah memberlakukan tarif tambahan terhadap produk Tiongkok.

Pada awal Maret, Komisi Eropa juga mulai mengenakan tarif terhadap produk ekspor Tiongkok ke pasar Eropa.

Pada kenyataannya, kenaikan tarif terhadap produk Tiongkok justru dapat memberikan dampak serius terhadap perusahaan-perusahaan Eropa sendiri, serta melemahkan daya saing kawasan secara keseluruhan.

Pengalaman menunjukkan bahwa kebijakan tarif tinggi, seperti yang pernah diterapkan Amerika Serikat terhadap Tiongkok, pada akhirnya juga membebani perekonomian domestik negara yang menerapkannya.

Beban tambahan itu sering kali berujung pada kenaikan biaya yang akhirnya ditanggung oleh masyarakatnya sendiri.

Persoalan ini bukan hanya isu ekonomi, tetapi juga isu Politik dan bahkan menyangkut tatanan internasional.

Dalam pembahasan mengenai masa depan industri Eropa, sejumlah pemimpin Eropa menegaskan pentingnya mengurangi ketergantungan ekonomi agar Eropa tetap memiliki posisi strategis di tingkat global.

Di sisi lain, Uni Eropa juga menekankan pentingnya membangun persaingan yang dianggap lebih adil dengan Tiongkok.

Namun demikian, akar persoalan ekonomi Eropa pada dasarnya bersumber dari ketimpangan internalnya sendiri.

Karena itu, jalan keluar yang sesungguhnya juga terletak pada upaya untuk mengatasi ketimpangan tersebut. Yang dibutuhkan Eropa adalah kerja sama yang lebih konstruktif, bukan konfrontasi dagang.

Dari Globalisasi ke Anti-Globalisasi

Globalisasi merupakan tren utama perkembangan ekonomi dunia. Namun, pada saat yang sama, dunia kini juga menghadapi gelombang anti-globalisasi.

image_print

1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.