Kamis, 29/02/2024 - 12:14 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

EKONOMIFINANSIAL

Indef Nilai Kebijakan Burden Sharing Cukup Sampai Akhir 2022

ADVERTISEMENTS

Kebijakan burden sharing telah dilakukan BI sejak 2022.

ADVERTISEMENTS
Nisfu Sya'ban

JAKARTA – Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai kebijakan burden sharing atau berbagi beban antara pemerintah dengan Bank Indonesia (BI) sudah cukup dilakukan sampai akhir tahun 2022, sehingga tidak perlu diperpanjang.

ADVERTISEMENTS
Pasar Murah Khusus Pensiunan

“Menurut saya burden sharing ini memang harus ada cut off-nya dan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 2 tahun 2020 kemarin, itu sudah cukup,” ujar Eko dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang dipantau secara daring di Jakarta, Rabu (7/9/2022).

ADVERTISEMENTS
Isra' Mi'raj

Adapun UU Nomor 2 tahun 2020 telah mengatur pelaksanaan burden sharing berakhir pada tahun ini, setelah dilakukan sejak 2020 dimana pandemi Covid-19 melanda.

ADVERTISEMENTS
Hari Pers Nasional
Berita Lainnya:
BI: Pemerintah Pastikan Ketersediaan Pasokan Beras

Dengan selesainya peran BI dalam burden sharing, yakni menjadi pembeli siaga Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana, menurut Eko, selanjutnya bank sentral akan membeli SBN hanya di pasar sekunder, sehingga mekanisme penerbitan SBN akan cenderung kepada pasar saja.

ADVERTISEMENTS

Kondisi tersebut memang dinilai tidak mudah, apalagi pada tahun 2023 defisit sudah diarahkan untuk kembali ke level di bawa tiga persen dari produk domestik bruto (PDB).

ADVERTISEMENTS
Bayar Tol dengan Pengcard
ADVERTISEMENTS
Mari Berbagi dengan Action

Di tengah situasi tersebut, ia pun berpendapat kondisi geopolitik yang memanas akan berlangsung lama, yang akan mempengaruhi kondisi perekonomian global dan berdampak pada dinamika suku bunga acuan bank sentral.

ADVERTISEMENTS
KUR Syariah Bank Aceh
Berita Lainnya:
Aset Keuangan Syariah Masih Rendah, Kemenkeu: Potensinya Besar

“Dengan demikian ke depannya saya rasa bagaimanapun kondisinya, Indonesia sudah dalam level pemulihan sehingga pelan-pelan memang harus diupayakan agar tidak harus terus dibantu oleh burden sharing,” ungkapnya.

Menurutnya, pemberhentian burden sharing merupakan bagian dari komitmen bersama dan untuk menjaga kredibilitas pasar ke depan agar investor asing tertarik dengan Indonesia, meski porsi investor domestik tetap harus diperbesar.

Dari kondisi tersebut, nantinya diharapkan imbal hasil (yield) SBN Indonesia bisa ditekan agar lebih efisien untuk pembangunan Indonesia ke depan.

Sumber: Antara/Republika

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Apa jurus andalan kamu supaya nggak gampang sakit

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi