Kamis, 25/04/2024 - 04:10 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

NASIONAL
NASIONAL

Koalisi Partai Incar Efek Ekor Jas dan Restu Istana di Pilpres 2024

ADVERTISEMENTS

Semua partai ingin menang bukan sekedar menjadi penggembira dalam Pilpres.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat Memperingati Hari Kartini dari Bank Aceh Syariah
ADVETISEMENTS
Ucapan Belasungkawa Zakaria A Rahman dari Bank Aceh

JAKARTA — Dinamika Koalisi Pilpres yang kini mengemuka suka atau tidak mesti diakui lebih dipengaruhi oleh pergerakan elektabilitas figur selain faktor presidential threshold. Selain mengejar efek ekor jas (coat tail effect), partai-partai yang duduk dalam koalisi pemerintahan saat ini juga berupaya melekatkan restu istana.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis (TPS), Agung Baskoro mengatakan hal ini disebabkan semua partai ingin menang bukan sekedar menjadi penggembira dalam Pilpres. Di titik inilah kemampuan partai beradaptasi dalam situasi politik yang sedemikian kompetitif diuji.

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah

“Karena selain nalar eksternal berupa elektabilitas, terdapat logika elite yang berpusat pada loyalitas kader kepada ketua umumnya atau relasi capres-cawapres dengan Presiden Jokowi yang kini ditempatkan sebagai salah satu King Maker dalam Pilpres 2024,” ujar Agung, Selasa (1/11/2022).

ADVERTISEMENTS

Menurut Agung, mengoptimalkan restu Presiden Jokowi sangat penting di kondisi Pemilu 2024 mendatang. Seperti yang dilakukan Prabowo, yang selalu melakukan afirmasi dengan pernyataan konsisten memuji kerja Presiden Jokowi di berbagai forum.

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil

Belakangan, hal itu juga dilakukan PKB, dengan bertandang ke Istana pada Senin (31/10/2022) kemarin, untuk menyerahkan rekomendasi acara Road to Win 2024 yang telah digelar. Hubungan saling menguntungkan ini menjadi penting baik bagi Presiden Jokowi dan KIR, karena petahana butuh kepastian program-programnya dilanjutkan.

Berita Lainnya:
TNI akan Salurkan Bantuan ke Gaza Lewat Udara dengan Bantuan Yordania, Ini Alasannya

Sementara di sisi penerusnya, Ia butuh kepastian bisa berlaga di Pilpres dalam bentuk jaminan sekuritas politik maupun sumber daya lainnya. Karena itulah, Agung menilai sementara ini, menempatkan Prabowo Subianto sebagai capres unggulan. Karena mampu menyeimbangkan nalar elektabilitas dan logika elite tadi.

Prabowo telah memiliki tiket Pilpres dari Gerindra dan ditegaskan kembali dalam agenda “Road to Win 2024” PKB Sabtu kemarin (30/10). Kemudian lewat sambutan ketua umum (Ketum) Muhaimin Iskandar (Cak Imin), semakin diperkuat, yang kini menjadi mitra koalisi pra-pilpres.Koalisi Indonesia Raya (KIR) walaupun belum meresmikan paket capres-cawapresnya, namun nama Prabowo-Cak Imin mengemuka. Agung menyebut, kemungkinan Prabowo-Cak Imin lah yang disodorkan oleh KIR, bila tak ada aral melintang. Karena keduanya merupakan Ketum partai, pemilik hak prerogatif untuk memutuskan siapa capres-cawapres dari Gerindra dan PKB.

“Namun pertanyaan mendasar mengemuka, Apakah pasangan ini bisa menang dalam Pilpres?,” ujarnya.

Pada bagian lain, munculnya nama Anies Baswedan (Anies) yang diusung oleh Koalisi Perubahan Indonesia (KPI) memberi warna dalam dinamika koalisi hari ini. Selain mengirim pesan kebaruan, menimbang Prabowo telah berulangkali maju Pilpres, juga dimensi oposisi yang kuat, karena baik Demokrat dan PKS sebagai rekan koalisi Nasdem, konsisten berada di luar pemerintahan sejak 2014.

“Sayangnya, pekerjaan rumah KPI masih lebih banyak dibanding KIR, karena masing-masing partai pengusung, baik Demokrat, Nasdem, dan PKS sudah punya nama cawapres, sementara Anies sebagai capres juga sudah punya tiga kriteria untuk calon pendampingnya,” ujarnya.

Berita Lainnya:
DPR RI Sahkan RUU DKJ Jadi UU, Jakarta Bukan Lagi Ibu Kota

Sebagaimana disampaikan Anies, kriteria cawapresnya yakni, pertama harus memiliki daya ungkit elektoral, kedua harus mempunyai kemampuan menyolidkan koalisi dan ketiga, bisa mengelola pemerintahan. Namun sampai di tahap ini publik masih menanti sosok cawapres Anies tersebut.

Termasuk juga, Agung mengatakan, kapan KPI meresmikan Anies terlebih dahulu sebagai bakal capres seperti Nasdem. Dimana hal itu juga sudah dilakukan oleh KIR mengirim sinyal kuat mendukung Prabowo, sebelum memutus nama cawapres.

“Jangan sampai KPI hanya sebatas ‘tempat nongkrong’ atau layu sebelum berkembang ketika koalisi lain sedang di puncak performa menyambut Pilpres, karena terlalu asik berdialektika atas dasar equal patnership,” ujar Agung.

Sementara itu, dalam konteks Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas oleh Golkar, PAN, dan PPP, Agung melihat, situasinya jauh lebih pelik dihadapi. Karena selain belum mengerucutkan nama capres-cawapres, ada kesan menunggu sikap PDIP terkait siapa calon yang diusung di antara Puan dan Ganjar.Padahal di sisi KIB yang menempatkan Golkar sebagai koordinator poros, karena memiliki elektabilitas tertinggi dibanding anggota koalisi lainnya. Dan Golkar sudah punya Airlangga Hartarto yang notabene Ketum Golkar yang resmi didaulat sebagai capresnya.

x
ADVERTISEMENTS
1 2

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi