Jumat, 01/03/2024 - 15:17 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

AMERIKAINTERNASIONAL

Bocah 6 Tahun yang Tembak Gurunya di AS Disebut Idap Disabilitas Akut

ADVERTISEMENTS

Ketika insiden penembakan terjadi anak itu sedang tidak ditemani orang tuanya.

ADVERTISEMENTS
Nisfu Sya'ban

 WASHINGTON – Seorang anak lelaki berusia 6 tahun yang menembak gurunya hingga terluka di sebuah sekolah di Newport News, Virginia, Amerika Serikat (AS), disebut mengidap disabilitas akut. Salah satu orang tuanya biasanya mendampinginya ke sekolah. Namun ketika insiden penembakan terjadi pada 6 Januari lalu, anak itu sedang tidak ditemani orang tuanya.

ADVERTISEMENTS
Pasar Murah Khusus Pensiunan

Keterangan terkait disabilitas akut yang dialami anak 6 tahun tersebut diungkap keluarganya lewat kantor pengacara mereka, James S Ellenson, Kamis (19/1/2023). Itu menjadi pernyataan perdana dari pihak keluarga sejak insiden penembakan terjadi pada 6 Januari lalu.

ADVERTISEMENTS
Isra' Mi'raj

Dalam keterangan persnya, keluarga anak tersebut menjelaskan anaknya berada di bawah rencana perawatan di sekolah. Mereka, yakni kedua orang tua, akan mendampinginya ke sekolah setiap hari.

ADVERTISEMENTS
Hari Pers Nasional

Terkait hal ini, mereka tak menjelaskan secara spesifik tentang apa yang dimaksud dengan ‘mendampingi sang anak setiap hari ke sekolah’. Tak diterangkan pula apakah mereka turut hadir di kelas dan mengikuti proses belajar mengajar atau tidak.

ADVERTISEMENTS
Berita Lainnya:
Insinyur Indonesia Diselidiki di Korsel karena Diduga Curi Teknologi Jet

Mereka juga tak memaparkan apa maksudnya rencana pengasuhan untuk anaknya. Namun menurut James S Ellenson, program pengasuhan itu bernama individualized education program (IEP).

ADVERTISEMENTS
Bayar Tol dengan Pengcard
ADVERTISEMENTS
Mari Berbagi dengan Action

Program tersebut diberikan kepada siswa penyandang disabilitas di bawah undang-undang federal. Ketika ditanya apakah kecacatan itu intelektual atau perilaku, Ellenson mengatakan itu ‘semuanya di atas’.

ADVERTISEMENTS
KUR Syariah Bank Aceh

Keluarga kemudian menerangkan mengapa mereka tidak bisa mendampingi anaknya saat insiden penembakan terjadi pada 6 Januari lalu. Mereka mengklaim, itu merupakan pertama kalinya mereka tak menemani anaknya. “Kami akan menyesali ketidakhadiran kami pada hari itu (penembakan) selama sisa hidup kami,” ujar mereka.

Kemudian keluarga sang anak turut menjelaskan tentang kepemilikan senjata api. Mereka mengaku membeli pistol berkaliber 9 milimeter secara legal. Pistol itu yang digunakan oleh anaknya saat melakukan penembakan.

“Keluarga kami selalu berkomitmen untuk memiliki senjata yang bertanggung jawab dan menjauhkan senjata api dari jangkauan anak-anak. Senjata api yang diakses putra kami diamankan,” kata keluarga yang tidak dipublikasikan identitasnya tersebut.

Berita Lainnya:
Inggris Minta Jaminan Tuduhan ke UNRWA tak Terulang

Dalam pernyataannya, keluarga sang anak tak menjelaskan bagaimana pistol mereka bisa dicuri. Namun James S Ellenson mengungkapkan, sepemahamannya, pistol tersebut disimpan di lemari ibunya di rak paling atas. Tingginya hampir dua meter.

Selain itu, pistol tersebut memiliki kunci pemicu yang membutuhkan kunci. Bentuknya mirip kunci sepeda. Namun Ellenson pun tak bisa menjawab tentang bagaimana anak yang disebut memiliki disabilitas akut itu dapat mengambil senjata milik orang tuanya. “Kami tidak tahu,” ujarnya.

Sementara itu kondisi guru yang menjadi korban penembakan terus membaik. Pihak rumah sakit telah menyampaikan bahwa guru tersebut dapat diizinkan pulang dalam beberapa hari mendatang. Setelah itu, dia akan melakukan rawat jalan.

Penembakan yang dilakukan seorang anak 6 tahun di Virginia kembali mencuatkan wacana tentang perlunya aturan mengenai kontrol kepemilikan senjata api. Selama beberapa tahun terakhir, aksi penembakan massal di Negeri Paman Sam semakin mengkhawatirkan dan telah memakan banyak korban.

sumber : AP

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Apa jurus andalan kamu supaya nggak gampang sakit

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi