Jumat, 21/06/2024 - 05:31 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

OPINI
OPINI

Kekerasan Jadi Budaya, Inikah Potret Generasi Abad Ini

VIDEO bentrokan mahasiswa USU viral di media sosial. Para mahasiswa terlibat perkelahian di Lapangan Futsal Pintu 1 USU. Pada rekaman video yang beredar, para mahasiswa ini berkelahi di lapangan Futsal USU. Mereka saling pukul dan berteriak. Terlihat ada puluhan mahasiswa yang terlibat perkelahian. Aksi bentrokan ini pun sempat divideokan, dan beredar di media sosial. Terkait bentrokan ini, Kepala Humas USU, Amalia mengatakan bahwa perkelahian ini terjadi akibat ada cekcok saat pertandingan Futsal (tribunmedan.com, 07/03).

Tak hanya itu, sederet tindakan kekerasan oleh generasi muda menjadi berita yang viral beberapa hari terakhir ini, yakni kasus penganiayaan Mario Dandy Satriyo (20) terhadap Cristalino David Ozora (17). Mario Dandy memukul, menendang, dan menginjak kepala David beberapa kali. Selain Mario Dandy, beberapa temannya yang masih berumur belasan tahun juga terseret kasus ini karena memprovokasi Mario Dandy dan membiarkannya melakukan kekerasan terhadap David (cnnindonesia.com, 25/2).

Serangkaian kasus kekerasan tersebut hanya secuil fakta yang diberitakan media dan viral. Namun, sejatinya, kasus kekerasan yang terjadi di masyarakat jauh lebih banyak, baik dari sisi pelaku maupun jenis kasusnya. Data UNICEF tahun 2016 menyatakan bahwa kekerasan pada sesama remaja di Indonesia mencapai 50% (fkkmk.ugm.ac.id, 14/3/2018).

Menurut catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang Januari – Juni 2022, sejumlah kekerasan pelajar terjadi di beberapa tempat. Berdasarkan catatan KPAI, kekerasan pelajar ada dua jenis, yaitu pengeroyokan dan tawuran. Pengeroyokan biasanya terjadi pemukulan dengan tangan kosong oleh sekelompok pelajar menyasar satu korban yang mana kedua belah pihak saling mengenal. Sementara itu, tawuran pelajar umumnya terjadi antara sekelompok anak sekolah menghadapi sekelompok anak sekolah lainnya dan mereka kerap membawa senjata tajam.

Ketika budaya kekerasan sudah memakan banyak korban, pemerintah pun kelimpungan mencari solusi. Mirisnya, upaya pemberian sanksi justru mentok pada batasan umur anak yang sampai 18 tahun. Akibatnya, remaja pelaku kekerasan tidak bisa diberi sanksi tegas, padahal mereka sudah balig. Akibatnya, potensi besar pemuda sebagai calon pemimpin masa depan justru terbajak untuk hal yang merugikan masyarakat. Pemuda tampil sebagai trouble maker, bukan problem solver. Padahal, mereka punya potensi yang luar biasa untuk menjadi harapan umat pada masa depan.

Berita Lainnya:
Buka Rute ke Aceh, Super Air Jet Diharapkan Dapat Promosikan Budaya dan Wisata

Ini hanya sekelumit fakta kekerasan yang dilakukan pemuda dan sudah cukup membuat kita resah dengan nasib generasi hari ini. Dunia remaja yang seharusnya menatap masa depan dengan penuh percaya diri dan optimisme tinggi justru di ambang kehancuran lantaran lebih dekat dengan aksi kekerasan, senjata tajam, hingga kematian. Ada apa dengan remaja kita? Mengapa karakter mereka begitu rapuh dan lemah?

Pemuda telah kehilangan makna hidup yang sebenarnya. Ia enggak paham hakikat penciptaan, untuk apa sebenarnya ia diciptakan ke dunia ini. Ia bingung bagaimana mengisi masa remajanya dengan baik dan efektif. Dengan kata lain, ia gagal paham tentang untuk apa masa remajanya itu. Yang seharusnya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, bukan dengan kegiatan yang merusak seperti tawuran.

Gimana dengan kontrol diri yang lemah? Ini maksudnya pemuda kurang bisa mengendalikan diri atas potensi kehidupan yang dia miliki, khususnya naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’).

Sejatinya setiap diri pemuda memiliki kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi. Jika enggak dipenuhi, maka fungsi biologis tubuhnya akan terganggu. Contohnya, kebutuhan minum. Jika dalam waktu sekian lama ia enggak minum, maka tubuh bisa dehidrasi dan bisa menyebabkan kematian.

Selain kebutuhan jasmani, pelajar juga diberikan potensi oleh Allah Swt. berupa naluri. Naluri manusia ada tiga yaitu naluri beragama (gharizah taddayyun), naluri berkasih sayang (gharizah nau’) dan naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’). Ketiga naluri ini dipicu/dirangsang dari luar diri pelajar.

Berita Lainnya:
Ujian Bagi Pancasila

Nah, naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’) pada diri pelajar inilah yang harusnya diatur pemenuhannya dengan mengalihkan pada kegiatan fisik lain yang positif. Pelajar perlu dibekali cara menahan dan mengendalikan diri saat rangsangan dari luar dirinya (ejekan teman, atau bullying misalnya) terjadi.

Ini semua disebabkan asas sekularisme yang mendasari kehidupan kita. Kebebasan berperilaku dijunjung tinggi, agama tak lagi diindahkan. Sistem hari ini telah sukses melindas budaya saling nasehat menasehati, berganti sikap hedonisme, egois, individualis dan arogan. Ada klasifikasi derajat manusia, standarnya adalah penilaian manusia. Kekejian, kekerasan dan perbuatan yang tak lagi mencerminkan peri kemanusiaan. Walhasil, solusi Islam tidak dipakai dalam menyelesaikan masalah generasi muda, mereka bahkan justru dijauhkan dari Islam.

Oleh karenanya, asas kehidupan berupa sekularisme ini harus dicabut dari pemikiran umat Islam. Selanjutnya diganti dengan asas yang sahih yaitu asas akidah Islam. Dengan demikian, seluruh pemikiran dan aturan yang terpancar di tengah masyarakat akan berdasar pada akidah Islam. Islam memiliki solusi yang komprehensif terhadap masalah budaya kekerasan pada pemuda.

Khilafah membangun sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam dan bertujuan membentuk sosok berkepribadian Islam, yaitu yang memiliki pola pikir Islam dan pola sikap Islam. Dengan output berkepribadian Islam ini, para muda akan menjadi orang-orang yang taat pada syariat dan jauh dari budaya kekerasan. Khilafah juga merevitalisasi peran keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak, juga peran masyarakat sebagai pelaku amar makruf nahi mungkar. Dengan demikian, tiga benteng kokoh tegak untuk melindungi generasi muda dari berbuat kriminal. Jika masih ada pemuda yang berbuat kriminal, jika dia sudah balig akan diberi sanksi tegas sesuai syariat. Dengan solusi komprehensif ini, budaya kekerasan akan hilang dan generasi muda Islam menjadi pemuda harapan umat, pembangun peradaban Islam nan gemilang. Wallahu a’lam bish showab.


Reaksi & Komentar

وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا الكهف [43] Listen
And there was for him no company to aid him other than Allah, nor could he defend himself. Al-Kahf ( The Cave ) [43] Listen

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi