Minggu, 21/04/2024 - 22:05 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

AMERIKAINTERNASIONAL

AS Harus Bersiap Hadapi Serangan Siber Cina

ADVERTISEMENTS

Cina melakukan investasi besar dalam kemampuan untuk menyabotase infrastruktur AS.

ADVERTISEMENTS
Ucapan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Reza Saputra sebagai Kepala BPKA

WASHINGTON — Direktur Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur, Jen Easterly memperingatkan, Cina pasti akan mengganggu infrastruktur kritis Amerika, seperti saluran pipa dan rel kereta api, jika terjadi konflik dengan Amerika Serikat. Easterly mengatakan, Beijing melakukan investasi besar dalam kemampuan untuk menyabotase infrastruktur AS.

ADVERTISEMENTS
Manyambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H dari Bank Aceh Syariah

“Ini saya pikir, adalah ancaman nyata yang perlu kita persiapkan, dan untuk fokus, dan untuk membangun ketahanan,” kata Easterly.

ADVERTISEMENTS
Berita Lainnya:
Pasukan Penjaga Perdamaian Rusia Mundur dari Karabakh

Easterly memperingatkan bahwa, orang Amerika perlu bersiap untuk kemungkinan peretas Beijing. Dia mengaku, sulit untuk menghindari pertahanan Cina.

“Mengingat sifat ancaman yang luar biasa dari aktor negara Cina, mengingat ukuran kemampuan mereka, mengingat berapa banyak sumber daya dan upaya yang mereka lakukan, akan sangat sulit bagi kita untuk mencegah terjadinya gangguan,” kata Easterly.

 

ADVERTISEMENTS
Mudahkan Hidup Anda!, Bayar PBB Kapan Saja, Di Mana Saja! - Aceh Singkil

Komentar Easterly mengikuti pertanyaan tentang dugaan kelompok peretas Cina yang dikenal sebagai Volt Typhoon. Pejabat AS dan perusahaan keamanan dunia maya menuduh Volt Typhoon memposisikan dirinya untuk melakukan serangan dunia maya yang merusak jika terjadi konflik.

Berita Lainnya:
Konflik Iran-Israel Memanas, Kemlu Terus Pantau Kondisi WNI

Awal tahun ini komunitas intelijen AS mengatakan, Beijing pasti akan mempertimbangkan untuk melakukan operasi siber yang agresif terhadap infrastruktur kritis AS dan target militer. Serangan dapar berlangsung jika para pembuat keputusan Cina yakin pertarungan besar Cina dan Amerika Serikat sudah dekat.

sumber : Reuters

Sumber: Republika

x
ADVERTISEMENTS

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi