BANDA ACEH – Anggota DPR RI Komisi IV dari Fraksi PKS Andi Akmal Pasluddin menyampaikan kritiknya terhadap kebijakan pemerintah yang melakukan impor beras dalam jumlah besar.
Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia sudah mengimpor beras sebanyak 3,06 juta ton selama tahun 2023. Ini menandai kenaikan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Konferensi pers BPS pada Senin (15/1/2024) lalu menyatakan bahwa importasi beras ini adalah impor beras terbesar dalam lima tahun terakhir. Meningkat 613,61% dibandingkan tahun 2022.
Dalam penjelasannya, Akmal mengkritik keras kebijakan ini sebagai indikasi kegagalan pemerintah dalam mencapai swasembada pangan.
Dia menekankan ketergantungan pada impor beras dalam jumlah besar adalah langkah mundur untuk Indonesia. “Cita-cita kedaulatan pangan kita telah ambyar.
Kita harus menanyakan mengapa tiba-tiba ada kebutuhan mendesak untuk mengimpor beras dalam jumlah yang sangat besar? Apakah ini menunjukkan ada masalah dalam manajemen stok pangan nasional?,” kata Akmal dikutip pada Kamis (18/1/2024).
Akmal menyebut ada kemiripan dengan menjelang pemilu 2019. Pemerintah tiba-tiba juga melakukan importasi beras sebesar 2 juta ton.
Politisi PKS ini juga menyoroti dampak negatif impor ini terhadap petani lokal. Menurutnya, impor dalam skala besar dapat menyebabkan penurunan harga beras di pasar domestik yang pada gilirannya akan merugikan para petani di Indonesia.
Dia mengkritik ketergantungan impor dari negara-negara tertentu dengan Thailand, Vietnam dan Pakistan sebagai penyumbang terbesar.
Akmal menilai ini sebagai strategi yang berisiko dan menyerukan diversifikasi sumber impor. Dalam konteks yang lebih luas, dia juga mengkritisi peningkatan impor di sektor serealia termasuk beras sebagai indikasi lemahnya ketahanan pangan nasional.
“Ini adalah tanda peringatan bagi kita semua. Di sisi lain, PKS menyeru penguatan pencapaian cita-cita kedaulatan pangan yang meliputi kemandirian dan ketahanan pangan.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah dalam mengelola perberasan nasional terlihat amburadul,” ujarnya. Akmal menegaskan dan mendorong pemerintah untuk mengkaji ulang kebijakan ini.
Dia pun menyarankan investasi yang lebih besar dalam riset pertanian, infrastruktur dan dukungan bagi petani lokal demi mencapai kemandirian pangan. “Kita perlu fokus pada solusi jangka panjang bukan hanya solusi instan seperti impor.
Pemerintah harus memprioritaskan pengembangan sektor pertanian kita,” terangnya.
“Langkah-langkah strategis harus segera diambil untuk mengatasi tantangan ini. Jangan sampai ambyarnya cita-cita perberasan nasional ini semakin berlarut,” pungkas dia
































































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler