UPDATE

NASIONAL
NASIONAL

Ketua BEM UGM Diteror: Agen Asing, Culik Mau?

BANDA ACEH –  Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto bicara soal teror yang diterimanya.Bermula masuknya pesan WhatsApp dari nomor asing ke gawai milik Tiyo Ardianto. 

Nomor yang tertera berasal dari Inggris Raya, namun pesan disampaikan dengan Bahasa Indonesia.

Pesan tersebut masuk terus-menerus, di antaranya berbunyi: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Pesan itu masuk dari nomor yang sama, namun dikirim dalam waktu yang berbeda-beda.

Pertama kali, teror itu diterima Tiyo pada Senin (9/2/2026), teror berlanjut namun tidak ditanggapi.

Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.

Sayangnya, dua sosok bertubuh tegap itu hilang ketika dikejar.

Teror Bermula dari Kirim Surat ke UNICEF 

Tiyo menceritakan teror itu diterima pasca BEM UGM mengirimkan surat ke Nations Children’s Fund (UNICEF), Jumat (6/2/2026).

Surat tentang ‘ketidaktahuan’ Presiden RI

Surat itu dikirimkan karena melihat ironi di tanah air. 

Kala seorang anak di Ngada, NTT memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli pena dan buku, negara menggelontorkan Rp 16,7 triliun untuk iuran pda Board of Peace (BoP). 

Pemerintah juga menggelontorkan dana Rp 1,2 triliun per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Ada satu ironi yang luar biasa yang mendorong teman-teman BEM UGM untuk mengirimkan surat kepada UNICEF. Ini adalah ikhtiar sekaligus wajah paling nyata, bahwa di republik ini tidak ada lagi yang bisa diharapkan,” katanya saat ditemui di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).

“Rasanya pak presiden ini tidak sadar bahwa beliau punya ketidaktahuan terhadap realitas ini. Ketidaktahuan itu kita ambil sebagai diksi stupid. Karena dalam KBBI, bodoh itu artinya tidak tahu. Maka kita ingin supaya ada pihak luar yang didengar oleh Presiden, ketimbang publiknya sendiri,” sambungnya.

Ajak Dunia Menegur Indonesia

Melalui surat itu, ia ingin mengajak dunia untuk ikut menegur pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia salah meletakkan prioritas. 

Mestinya prioritas pemerintah Indonesia adalah peningkatan pendidikan dan kesehatan.

Pascapengiriman surat, ia telah dihubungi oleh pensiunan UNICEF dan akan membantu menyampaikan langsung ke Direktur Eksekutif UNICEF, Chaterine Russell.

Ia menilai teror yang diterima merupakan bahasa kekuasaan. Menurut dia, apapun ekspresi rakyat yang cinta pada bangsanya harus dilindungi. 

image_print
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.