“Tidak boleh dianggap sebagai ancaman. Ketika orang yang peduli pada bangsa yang dianggap ancaman, maka orang-orang yang akan bertahan adalah mereka yang cenderung menjajah negaranya dengan cara memperbaiki mulutnya supaya Bapak senang, supaya Bapak Presiden senang,” lanjutnya.
Tak Gentar, Semakin Melawan
Meski banyak teror yang menimpanya, ia tidak gentar menyuarakan kegelisahannya. Ia memegang prinsip ‘something doesn’t kill you will make you stronger’.
Pun sikap BEM UGM tidak akan berubah meski teror menimpanya.
“Kami (BEM UGM) punya slogan yang sering diucapkan setiap ketemu di jalan ‘semakin ditekan, semakin melawan’. Jadi justru para peneror harus tahu, semakin meneror kita, itu justru semakin bahaya bagi mereka. Saya yakin negara, pemerintah nggak akan bunuh saya. Karena kalau bunuh saya, bahayanya akan lebih besar ketimbang keuntungannya,” ungkapnya.
Baca juga: Sosok Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Diteror hingga Dikuntit Dua Orang Berbadan Tegap
Ia berharap teror yang ia terima adalah yang terakhir.
Teror yang ia terima merupakan alarm yang menunjukkan demokrasi Indonesia tidak baik-baik saja.
“Saya harap ini terakhir kalinya, tidak hanya BEM UGM. Tidak boleh lagi ada peristiwa teror, penguntitan kepada orang lain atau lembaga lain. Karena di dalam negara demokrasi, kebebasan bukan diberikan oleh negara, tapi ada dalam sendirinya sebagai warga negara,” imbuhnya.
Teror tersebut sudah diketahui oleh pihak kampus. Kampus juga berkomitmen untuk melindungi jika terjadi teror yang lebih mengancam.
Terpisah, Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana menyebut pihaknya masih melakukan koordinasi.
“Mohon maaf, saya akan kabari segera ya. Kami sedang koordinasi,” ujarnya singkat.
UGM Beri Perlindungan
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pasang badan bagi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto, yang mendapatkan teror dari orang tak dikenal.
Ancaman teror yang diterima Tiyo Ardianto pun beragam mulai dari ancaman pesan singkat dari nomor tak dikenal hingga dikuntit dua orang berbadan tegap.
Juru Bicara UGM Yogyakarta, Dr I Made Andi Arsana, menyatakan pimpinan universitas telah melakukan komunikasi dengan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto soal ancaman teror tersebut.
Kampus kemudian menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan.
“Pada prinsipnya, atas nama institusi dan berdasarkan konstitusi, UGM berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika UGM dari ancaman atau teror yang berasal dari mana pun,” jelas Made Andi, dalam keterangan resminya, Minggu (15/2/2026).






























































































Beri Komentar