Fenomena political state capture ini menyalahi rasa keadilan masyarakat, karena ada perlakuan yang berbeda dan akses istimewa terhadap kandidat tertentu. Sehingga perolehan survei dengan angka tertinggi bukanlah hal yang menakjubkan. Karena diperoleh dengan mengerahkan kekuatan non-elektoral untuk mendongkrak angka elektoral.
Artinya, ia bukan diperoleh dengan kecanggihan teknik kampanye atau mesin politik elektoral pada umumnya, namun dengan pengondisian arena pertarungan secara terselubung (shadow) melalui pengaruh kekuasaan untuk melakukan strategi dominasi sehingga berpengaruh pada modal atau sumber daya.
Mengancam Hak Asasi: Masyarakat Semakin Takut
Survei Litbang Kompas pada 15-17 Januari 2024 menemukan hampir setengah dari responden (42,3 persen) mengaku khawatir dirinya, keluarga, ataupun orang di sekitarnya mendapatkan ancaman dari pihak lain yang berbeda pilihan politik. Artinya, masyarakat benar-benar merasakan bahwa ancaman dan intimidasi itu nyata ketika berbeda pilihan politik, bukan hanya propaganda di media sosial. Hasil ini patut diperhatikan lebih dalam oleh pemerintah dan penyelenggara pemilu.
Faktanya masyarakat tak merasakan hajatan politik yang damai, demokratis, apalagi riang-gembira seperti yang kerap digembar-gemborkan selama ini. Pemilu kita dibayang-bayangi ancaman dan intimidasi. Tanpa kebebasan bersikap dan menentukan pilihan politik. Demokrasi berpotensi berubah menjadi tirani. Pemilu hanya menghasilkan ketakutan.
Dan ketika pesta demokrasi ini justru menghasilkan ketakutan, maka sejatinya kita sedang menghidupkan kembali “otak kuno” manusia. Karena ketakutan sama tuanya dengan kehidupan di Bumi. Ia adalah reaksi yang mendasar yang berkembang sepanjang sejarah biologis manusia, untuk melindungi dirinya dari ancaman yang dirasakan terhadap keberadaan mereka. Dalam pendekatan neuroscience, rasa takut diproses oleh Amigdala. Jika amigdala menilai pesan berbahaya, proses pengolahan informasi di otak besar akan diloncati, dan ia akan langsung menghubungi hipotalamus yang mengatur nafsu.
Sejarah manusia menuliskan bahwa ketakutan yang dipompa terus-menerus bukan justru melahirkan kepatuhan atau ketertundukan, melainkan justru melahirkan sikap agresif, perlawanan yang brutal, karena manusia secara naluriah akan melindungi dirinya dari ancaman. Ia akan melawan rasa takut. Dan keberanian bukanlah sesuatu yang dimiliki manusia sejak lahir. Ia adalah keterampilan yang dilatih di tengah situasi yang dirundung ketakutan.
Di sinilah pentingnya kita menjaga suasana yang demokratis, menghargai kebebasan memilih dan berekspresi, untuk menghasilkan pemilu yang damai. Karena tak ada kedamaian yang diciptakan dengan ketakutan. Dan jauh lebih penting dari itu, kita harus menjaga keutuhan bangsa diatas keberlanjutan kekuasaan.






























































































