Kamis, 29/02/2024 - 02:30 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

NASIONAL
NASIONAL

Hari Tenang, Allan Nairn Terbitkan Artikel Sebut Prabowo Ancam Demokrasi Indonesia

ADVERTISEMENTS

BANDA ACEH – Jika terpilih menjadi Presiden RI pada pemilu 14 Februari mendatang, Prabowo Subianto disebut akan membawa Indonesia menuju rezim diktator fasis. Hal ini diungkapkan oleh Allan Nairn, seorang wartawan investigasi senior dari AS, dalam tulisannya di The Intercept berjudul ‘Indonesia State Apparatus Is Preparing to Throw Election to a Notorious Massacre General’ yang diterbitkan menjelang hari tenang, Sabtu, 10 Februari 2024.Nairn memulai tulisannya dengan mengingatkan tentang sejarah kelam Indonesia sebelum reformasi. “Indonesia, yang telah menyaksikan dua pembantaian besar di abad ke-20, mungkin akan kembali ke pemerintahan militer di bawah jenderal yang paling terkenal,” ujarnya. Nairn dengan tegas menyebutkan bahwa Jenderal Prabowo Subianto, yang telah lama dibina oleh AS, terlibat dalam berbagai pembantaian terhadap sipil.

ADVERTISEMENTS
Nisfu Sya'ban

“Pada tahun 2001, saya bertemu dan mewawancarai Prabowo sebanyak dua kali, membahas tentang pembantaian yang dilakukan oleh tentara, termasuk satu insiden di Dili, Timor Timur, yang saya sendiri berhasil selamat,” tulisnya. Menurutnya, saat itu Prabowo mengatakan bahwa Indonesia belum siap untuk demokrasi dan masih memerlukan sebuah rezim otoriter yang lembut.

ADVERTISEMENTS
Pasar Murah Khusus Pensiunan

“Prabowo menyatakan dukungannya untuk pemerintahan militer. Ia memuji kudeta di Pakistan dan merenungkan kemungkinan melakukan langkah serupa di Indonesia,” lanjutnya. Nairn juga menyebut bahwa Prabowo pernah mencoba melakukan kudeta dan telah gagal dua kali dalam pemilihan Presiden.

ADVERTISEMENTS
Isra' Mi'raj
Berita Lainnya:
FKUB Harus Jaga Situasi Tetap Kondusif setelah Pemilu 2024

Namun, menurut Nairn, Pemilu 2024 ini berbeda karena Prabowo mendapat dukungan dari Presiden Joko WIdodo (Jokowi) dan kekuatan besar lainnya untuk memenangkan pemilu tersebut. “Kekuatan aparatur negara berperan penting dalam kampanye. Pejabat lokal diancam akan dituntut jika mereka tidak mendukung jenderal tersebut. Di seluruh negara, tentara dan polisi menginstruksikan masyarakat untuk memilih Prabowo,” jelasnya.

ADVERTISEMENTS
Hari Pers Nasional

Melalui apa yang disebut Nairn sebagai ‘topeng’ bantuan sosial, Jokowi menyebarkan beras dan minyak goreng bertanda Prabowo ke seluruh negeri. “Pada sebuah pertemuan internal Rabu lalu, pejabat militer dan intelijen membahas rencana penggunaan aparatur negara untuk melakukan kecurangan pemilu, menurut dua sumber yang mengetahui rencana tersebut,” kata Nairn. Dalam skema tersebut, polisi dan Babinsa akan dilibatkan sebagai mata dan telinga.

ADVERTISEMENTS

Mereka juga akan melibatkan tentara untuk menerima dan mendistribusikan uang, memperbaiki lembaran tabulasi di tingkat lokal, serta melakukan kecurangan dengan memanipulasi entri data komputer di tingkat distrik dan kabupaten, termasuk kemungkinan meretas sistem internal Komisi Pemilihan Umum (KPU).

ADVERTISEMENTS
Bayar Tol dengan Pengcard
ADVERTISEMENTS
Mari Berbagi dengan Action

“Pejabat kampanye di masa lalu telah membual kepada saya tentang menggunakan taktik seperti itu di tingkat lokal. Penerapannya di tingkat nasional oleh negara dapat sangat membantu dalam menyerahkan demokrasi Indonesia, sekali lagi, ke tangan pemerintahan tirani,” jelasnya.

ADVERTISEMENTS
KUR Syariah Bank Aceh
Berita Lainnya:
Pencatatan Nikah Semua Agama di KUA, Pemuka Agama Nonmuslim Tegaskan Menikah Itu Ranah Privat, Bukan Semata Administrasi

Selanjutnya, Nairn mengungkap sisi gelap Prabowo dalam hubungannya dengan Presiden Soeharto dan AS. Disebutkan bahwa Prabowo berasal dari keluarga perbankan kaya, memiliki ratusan ribu hektare lahan perkebunan, pertambangan, dan properti industri. Ia juga merupakan menantu dari Soeharto.

“Jenderal Soeharto, yang didukung oleh AS, memerintah Indonesia selama 32 tahun. Soeharto mengambil alih kekuasaan dalam kudeta 1965, menggulingkan Soekarno, presiden sipil pendiri negara tersebut,” paparnya. Nairn mengeklaim, dengan bantuan dari CIA yang menyediakan daftar kematian sebanyak 5.000 nama, Soeharto membunuh antara 400 ribu hingga satu juta warga sipil Indonesia.

Pada tahun 1975, setelah bertemu dengan Presiden AS Gerald Ford dan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger, Soeharto menyerang Timor Timur. Dalam insiden tersebut, Nairn menyebutkan, tentara Indonesia membunuh sepertiga dari populasi Timor Timur.

“Prabowo, sebagai menantu Soeharto, merupakan komandan senior dalam pembantaian di Timor Timur. Dalam satu kasus, di Kraras, pada tahun 1983 di Gunung Bibileo, ratusan warga sipil dibunuh,” terangnya. “Tidak hanya itu, Prabowo juga secara pribadi menyiksa tahanan. Seseorang pernah menceritakan kepada saya tentang Prabowo yang mematahkan giginya. Prabowo menggambarkan dirinya sebagai ‘anak laki-laki Amerika yang berambut pirang’,” ungkapnya.

x
ADVERTISEMENTS
1 2

Reaksi & Komentar

Apa jurus andalan kamu supaya nggak gampang sakit

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi