“Pejabat kampanye di masa lalu telah membual kepada saya tentang menggunakan taktik seperti itu di tingkat lokal. Penerapannya di tingkat nasional oleh negara dapat sangat membantu dalam menyerahkan demokrasi Indonesia, sekali lagi, ke tangan pemerintahan tirani,” jelasnya.
Selanjutnya, Nairn mengungkap sisi gelap Prabowo dalam hubungannya dengan Presiden Soeharto dan AS. Disebutkan bahwa Prabowo berasal dari keluarga perbankan kaya, memiliki ratusan ribu hektare lahan perkebunan, pertambangan, dan properti industri. Ia juga merupakan menantu dari Soeharto.
“Jenderal Soeharto, yang didukung oleh AS, memerintah Indonesia selama 32 tahun. Soeharto mengambil alih kekuasaan dalam kudeta 1965, menggulingkan Soekarno, presiden sipil pendiri negara tersebut,” paparnya. Nairn mengeklaim, dengan bantuan dari CIA yang menyediakan daftar kematian sebanyak 5.000 nama, Soeharto membunuh antara 400 ribu hingga satu juta warga sipil Indonesia.
Pada tahun 1975, setelah bertemu dengan Presiden AS Gerald Ford dan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger, Soeharto menyerang Timor Timur. Dalam insiden tersebut, Nairn menyebutkan, tentara Indonesia membunuh sepertiga dari populasi Timor Timur.
“Prabowo, sebagai menantu Soeharto, merupakan komandan senior dalam pembantaian di Timor Timur. Dalam satu kasus, di Kraras, pada tahun 1983 di Gunung Bibileo, ratusan warga sipil dibunuh,” terangnya. “Tidak hanya itu, Prabowo juga secara pribadi menyiksa tahanan. Seseorang pernah menceritakan kepada saya tentang Prabowo yang mematahkan giginya. Prabowo menggambarkan dirinya sebagai ‘anak laki-laki Amerika yang berambut pirang’,” ungkapnya.
Prabowo menerima pelatihan dari AS di Fort Benning di Georgia dan Fort Bragg di North Carolina (sekarang dikenal sebagai Fort Moore dan Fort Liberty). “Prabowo secara rinci berbicara kepada saya tentang kerja samanya dengan Pentagon, termasuk dengan Badan Intelijen Pertahanan, yang menurutnya, ia melaporkan setidaknya setiap minggu,” tegasnya.
Akan tetapi, menurut Nairn, gambaran negatif tentang Prabowo dalam Pemilu 2024 ini telah coba dihilangkan dengan kampanyenya yang menarik perhatian.
Untuk diketahui, Allan Nairn pernah melakukan investigasi terhadap operasi militer di Timor Leste. Saat itu, 12 November 1991, ia bersama rekannya, Amy Goodman, juga sempat dipukuli oleh oknum anggota ABRI setelah mereka menyaksikan pembunuhan massal demonstran Timor yang dikenal sebagai Pembantaian Santa Cruz.
Menyaksikan peristiwa itu, Nairn yang juga seorang aktivis HAM mengaku pernah melobi Kongres AS agar dukungan kemiliteran dari AS untuk Indonesia harus dihentikan. Tak hanya di Indonesia, Nairn juga pernah melakukan investigasi terhadap praktik kejahatan HAM di sejumlah negara, seperti Guatemala, Honduras, El Savador, dan Nicaragua. Di Indonesia sendiri, Nairn juga kerap menyuarakan keadilan HAM yang harapannya dapat menyeret para aktor yang terlibat ke pengadilan.



















































































































Komentar Terbaru