Sabtu, 25/05/2024 - 12:58 WIB
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi

TERBARU

NASIONAL
NASIONAL

Terkuak! Ini Fakta Baru Santri Banyuwangi yang Tewas Dianiaya Seniornya

BANDA ACEH -Fakta baru terkait kasus kematian santri Pondok pesantren Al Hanafiyyah bernama Bintang Balqis Maulana, 14, sedikit demi sedikit terkuak.

ADVERTISEMENTS
QRISnya satu Menangnya Banyak

Dilansir Radar Kediri (JawaPos Grup), Kamis (29/2), santri asal Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi itu ternyata tidak hanya dikeroyok sekali oleh santri lainnya.

ADVERTISEMENTS
Bayar PDAM menggunakan Aplikasi Action Bank Aceh Syariah - Aceh Selatan

Sebelum meninggal, korban ternyata sudah beberapa kali dipukuli. Pemukulan itu sudah terjadi sejak Selasa (20/2) hingga Kamis (22/2) siang. 

Korban dipukuli di beberapa bagian tubuhnya mulai dari pipi, dada, punggung, dan beberapa bagian tubuhnya lainnya. Selain itu, korban juga sempat disundut menggunakan rokok.

“Pemicu pemukulan itu karena beberapa alasan,” kata sumber koran Radar Kediri (JawaPos Grup).

ADVERTISEMENTS
PDAM Tirta Bengi Bener Meriah Aplikasi Action Bank Aceh

Pemukulan yang terjadi pada hari Selasa (20/2), diketahui dipicu karena korban menolak piket bersih-bersih lingkungan pondok. Hal itu karena dia baru saja sembuh dari sakit.

ADVERTISEMENTS
Top Up Pengcardmu Dimanapun dan Kapanpun mudah dengan Aplikasi Action

Lalu, pemukulan kedua yang terjadi pada Rabu (21/2) malam, pemicunya yakni karena korban tidak mengikuti salat berjemaah. 

Kemudian, pada pemukulan terakhir yakni hari Kamis (22/2) siang, AF, 16, salah satu tersangka yang juga sepupu korban melakukan pemukulan bersama tersangka lain. 

ADVERTISEMENTS

Alasannya, karena korban diketahui sering mengadukan masalah di pesantren kepada Suyanti, 38, sang ibu. “Sering wadul, jadi tersangka marah,” lanjut sumber Jawa Pos Radar Kediri di Polres Kediri Kota.

ADVERTISEMENTS

Setelah pemukulan terakhir itu, kondisi korban menjadi semakin lemah pada Kamis malam. Luka di wajahnya sempat diobati. Namun, dia jadi semakin pucat.

Berita Lainnya:
Berharap Gugatan Dikabulkan PTUN, PDIP Minta MPR Tak Lantik Prabowo-Gibran

Saat itu, para tersangka pun segera membawa korban ke RS Arga Husada Ngadiluwih sekitar pukul 03.00 Jumat (23/2). Nahas, beberapa jam kemudian korban dinyatakan meninggal.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam kasus ini Polres Kediri Kota telah menetapkan empat tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap korban. 

Mereka adalah MN, 18, santri asal Sidoarjo; MA, 18, santri asal Nganjuk; AF, 16, santri asal Bali yang juga sepupunya; serta AK, 17, santri asal Surabaya. Alhasil, keempat pemuda ini dijebloskan ke tahanan.

Disisi lain, Rini Puspitasari, penasihat hukum empat tersangka menyebut, penganiayaan dilakukan karena korban beberapa kali tidak mengikuti salat berjemaah. “Konteksnya menasihati, tetapi tetap tidak sholat,” katanya.

Rini juga membenarkan terkait pemukulan yang dilakukan beberapa kali oleh pelaku. Menurutnya, pemicunya tetap sama, yakni karena korban tidak salat berjemaah.

Selain itu, ada pula momen dimana para tersangka merasa emosi saat melihat korban melotot ketika diajak berbicara oleh para pelaku.

“Jadi Kamis (22/2) tersangka meminta Bintang untuk mandi. Ternyata dia keluar dari kamar mandi dalam kondisi telanjang. Diajak bicara juga tidak sinkron,” ucapnya.

Berita Lainnya:
Belum Punya KTA hingga Kartu Expired, Hakim MK Tegur Kuasa Hukum Partai Demokrat

Saat sampai di kamar, korban kemudian diajak bicara. Namun, saat itu korban malah memelototi mereka. Alhasil, para pelaku emosi dan berujung pemukulan. 

“Pemukulan dengan tangan kosong,” jelasnya sembari menyebut para tersangka tidak mengira jika pemukulan itu berujung pada tewasnya sang teman.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Nova Indra Pratama menyebute, meski beberapa orang melihat temannya menjadi korban kekerasan, para saksi tidak berani menghentikan nya.

Sebab, usia mereka lebih kecil dari para pelaku. “Kemungkinan takut karena masih kecil. Jadi nggak berani,” jelas Nova sembari menyebut hingga kemarin penyidik masih mendalami kasus tersebut.

Saking memilukannya kasus ini, Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea pun mengatakan ketersediannya untuk memastikan dan membantu proses hukum kasus tersebut.

“Sudah tadi (kemarin), mengirim surat kuasa, dokumen, dan identitas kami ke Pak Hotman,” tutur Suyanti, 38, ibu korban. 

“Saya sebagai pihak korban kehilangan nyawa. Saya membutuhkan pendamping yang benar-benar membela saya,” lanjutnya.

Untuk melancarkan pengusutan kasus anaknya itu, Suyanti telah mengirim kartu keluarga (KK) ke Polresta Banyuwangi dan bukti terakhir percakapan dengan korban.

Diketahui, nomor HP tersebut juga ikut diselidiki oleh polisi. Sebab, keluarga merasa kesulitan saat hendak menghubungi nomor tersebut lagi pasca kejadian. 

ADVERTISEMENTS
x
ADVERTISEMENTS
1 2

Reaksi & Komentar

Berita Lainnya

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ditemukan berita/artikel lainnya.
IndonesianArabicEnglishRussianGermanFrenchChinese (Simplified)JapaneseMalayHindi