OPINI
OPINI

Selamat Hari Pahlawan

Disamping itu mereka sama sekali tidak melewatkan fakta bahwa negara ini memiliki potensi luar biasa karena memiliki jumlah penduduk usia produktif yang sangat besar. Indonesia diperkirakan memasuki bonus demografi antara tahun 2020-2030, dengan puncaknya pada tahun 2030. Fakta ini dapat berdampak buruk jika mereka tidak dapat mengendalikan generasi tersebut sesuai dengan kepentingan mereka.

Para elit itu kemudian menyusun strategi melalui agen-agen mereka yang duduk di bangku kekuasaan untuk membuat terobosan-terobosan, salah satunya melalui kurikulum pendidikan. Pelajaran agama Islam adalah sasaran pertama untuk direkonstruksi, kemudian pelajaran sejarah. Mengapa demikian? Tentu saja karena dua mata pelajaran ini adalah pembentuk identitas generasi.

Wajar kiranya jika sedikit demi sedikit Gen Z apalagi Gen Alpha berada dalam kondisi ahistoris. Ternyata banyak anak muda yang tidak peduli sejarah, tidak lagi mengenali para pahlawan bahkan tidak tertarik sama sekali untuk mempelajarinya. Padahal sejarah merupakan fondasi identitas kita karena menjelaskan asal-usul, nilai-nilai dan tradisi yang membentuk kita.

Melalui sejarah Gen Z maupun Gen Alpha akan terbantu dalam memahami peristiwa di masa lalu termasuk hubungan dan dampak masa lalu dengan peristiwa terkini. Selain itu belajar sejarah membantu kita mengembangkan keterampilan berpikir kritis dengan mempertimbangkan berbagai persfektif dan memahami konteks peristiwa.

Jika kita memahami sejarah maka kita akan mengambil hikmah dari berbagai peristiwa agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sejarah adalah sumber inspirasi bukan hanya bagi individu saja bahkan dapat menjadi inspirasi untuk kebijakan negara. Sepenting itulah sejarah bagi sebuah generasi untuk menguatkan kepemimpinan suatu bangsa.

Selanjutnya, ketika Gen Z dan Gen Alpha kita menjadi generasi yang kehilangan identitas akibat jauh dari sejarah mereka (ahistoris), maka strategi Elit Global berikutnya adalah memberikan identitas imitasi kepada anak muda kita. Maka penting bagi para Elit untuk menghapus pelajaran agama, agar proses sekulerisasi pemikiran generasi semakin sempurna. Re-identity pun dilakukan dengan meng-copy paste peradaban Barat ke dalam diri anak negeri. Proses ini dikenal sebagai pembaratan pemikiran, yang akan mengubah pola pikir dan pola sikap generasi.

Lahirlah generasi strawberry yang tampak indah namun rapuh. Gen Z tampil sebagai generasi yang lemah pemikirannya karena telah kehilangan standar berpikir yang benar. Generasi ini juga dikenal dengan sifatnya yang malas gerak (mager) karena hidup dalam zaman yang serba mudah dan dimanjakan teknologi.

image_print
1 2 3

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website