NASIONAL
NASIONAL

Martabat Miftah alias Ta’im Lebih Tinggi dan Terhormat Dibanding Jokowi dan Gibran

Atau bentuk pertanyaan lainnya, besar kemungkinan bahwa ijasah Gibran yang tidak dipersoalkan kala menjadi bakal calon Walikota Surakarta, maka apakah arsip di KPUD Surakarta Gibran pemilik ijasah S.2 atau S 1, yang kini juga berkembang (sengaja dikembangkan simpang siur isu) bahwa Gibran terdaftar pada beberapa sekolah SMA di Solo, yang seolah SMA juga Ia dapatkan selepas lulus SMP di Solo? Apakah untuk menutupi  temuan fakta yang ada Gibran  lulus kursus 3  (tiga) tahun di Singapura dan 1 (satu) di Australia setelah lulus SMP. Hal simpang siuran ini mengingatkan kisah nama dari Jokowi yang Mulyono, dan misteri keberadaan nomor ijasah SMA dan S 1 miliknya. 

Namun untuk membuktikan tentang kebenaran ijasah Gibran pada arsip KPU D Solo (Surakarta), tentu masyarakat kesulitan, lebih sulit ketimbang menghancurkan tembok Belin, susunan batu tebal dan tinggi sebagai pemisah antara negara Jerman Timur dan Jerman Barat sebelum bangsa jerman bersatu. 

Kemudian fenomena harga diri seorang Gibran, dengan ilustrasi perbandingan antara dugaan perilaku dirinya yang 99,9 % adalah orang pemilik akun fufu fafa, yang narasinya penuh hina se dina-dinanya” terhadap sosok Prabowo, walau Sang Presiden Ri Ke 8 diam, namun setiap detik diri Prabowo atas dasar jabatannya selaku Presiden RI selalu berada disebelah dirinya (Wakil Presiden) sebagai sosok pemimpin seluruh bangsa ini.

Maka, mengamati perangai Gibran, ternyata dijamin original, tak perlu disangsikan keaslsiannya sebagai anak seorang Jokowi yang tak pandai malu, dengan segala “tanda-tanda merah di kening” yang dikenang publik sebagai imunitas terhadap rasa malu dan minim harga diri.

Konklusi objektif berdasarkan data empirik yang bisa menjadi historis perilaku dan harga diri (martabat) antara Gus Miftah atau siapapun nama sebenarnya dengan seorang Jokowi, entah siapapun nama sebenarnya dan pola perilaku Gibran Rakabuming Raka Bin Jokowi merupakan kebalikan dari role pejabat publik yang cacat adab dan bad leadership. Maka derajat kehormatan Gus Miftah yang mengundurkan diri LEBIH TINGGI DARI KEDUA SOSOK ANAK BERANAK Jokowi tertuduh publik berijazah S1 palsu dari Fakultas Kehutanan UGM, dan pernah “memaksa” tambahan periode jabatan presidennya, serta Gibran atau Tertuduh publik manusia dibalik akun fufu fafa.

Oleh karenanya demi menjaga kerusakan sejarah hukum dan politik yang berkelanjutan tentunya publik bangs ini membutuhkan kerjasama seluruh anak bangsa Lintas Sara yang nice, disebabkan rasa tanggung jawab atas jiwa kebangsaan yang tinggi, HENTIKAN REKAYASA atau KAMUFLASE RASA SIMPATI DAN RASA HORMAT KEPADA SOSOK JOKOWI “RESIDU YANG TERUS BERGAYA JUMAWA DENGAN POLA CAWE-CAWENYA” melalui proses hukum dan vonis mahkamah, sekaligus paksa seret Gibran keluar istana secara konsitusi, karena secara moral tuduhan publik terhadap jatidirinya membentuk kualitas karakter yang serius yang tidak menunjukan manusia yang beradab, termasuk tingkat kemampuan dan pendidikannya tidak pantas bahkan merendahkan diri seorang Prabowo Subianto selaku Presiden RI pemimpin bangsa ini, andai terus dipaksakan untuk mendampingi sosok presiden dengan bukti ijasah asli disertai bukti dan saksi-saksi kawan lama para jenderal baik kakak kelas (purn TNI) serta rekan sekelas maupun dibuktikan oleh para adik kelas dari akademi pendidikan militer, akademi militer terhormat dengan para alumnus yang dipastikan sebagai cikal bakal para pemimpin bangsa (fungsional dan struktural di institusi TNI).   

image_print
1 2 3

Reaksi

Berita Lainnya

Uh-oh! It looks like you're using an ad blocker.

Our website relies on ads to provide free content and sustain our operations. By turning off your ad blocker, you help support us and ensure we can continue offering valuable content without any cost to you.

We truly appreciate your understanding and support. Thank you for considering disabling your ad blocker for this website