Kelemahan mitigasi terlihat dari buruknya sistem drainase di kota-kota besar, kurangnya pemantauan terhadap daerah rawan banjir, hingga minimnya edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengantisipasi bencana. Jika sistem mitigasi ini tidak diperbaiki, maka bencana akan terus berulang, membuat rakyat hidup dalam ketidakpastian dan penderitaan.
Islam dan Konsep Pembangunan yang Berkelanjutan
Berbeda dengan sistem kapitalisme, Islam memiliki konsep pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan manusia sekaligus menjaga keseimbangan alam. Islam memandang bahwa pembangunan bukan hanya tentang kemajuan ekonomi, tetapi juga bagaimana menciptakan kehidupan yang harmonis antara manusia dan lingkungannya. Oleh karena itu, negara dalam Islam bertanggung jawab penuh untuk memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan tidak merusak lingkungan dan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas.
Dalam Islam, ada beberapa prinsip utama dalam pembangunan yang harus diterapkan:
1. Pembangunan Berbasis Kelestarian Lingkungan
Negara wajib menjaga keseimbangan ekosistem dengan memastikan bahwa wilayah resapan air, hutan, dan daerah aliran sungai tetap terjaga. Pembangunan tidak boleh dilakukan di wilayah yang berisiko menyebabkan bencana. Islam melarang segala bentuk tindakan yang dapat merusak lingkungan, seperti eksploitasi sumber daya secara berlebihan tanpa memperhitungkan dampaknya.
2. Penguasa sebagai Raa’in (Pelindung Rakyat)
Dalam Islam, pemimpin memiliki tanggung jawab sebagai raa’in (pelindung rakyat). Artinya, penguasa tidak boleh membiarkan rakyatnya hidup dalam kesusahan akibat bencana yang sebenarnya bisa dicegah. Setiap kebijakan pembangunan harus didasarkan pada kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan segelintir elite ekonomi. Jika pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan kesejahteraan rakyat, maka bencana seperti banjir bisa dicegah secara sistematis.
3. Mitigasi Bencana yang Kuat
Islam mendorong negara untuk memiliki sistem mitigasi yang kuat. Salah satunya adalah dengan memastikan bahwa tata kelola air dilakukan dengan baik, drainase kota berfungsi optimal, serta edukasi kepada masyarakat mengenai kesiapsiagaan terhadap bencana terus dilakukan. Dalam sejarah peradaban Islam, banyak sekali proyek pembangunan yang memperhitungkan mitigasi bencana, seperti sistem irigasi yang canggih, perencanaan kota yang mempertimbangkan aliran air, hingga pengelolaan hutan secara berkelanjutan.
4. Pengelolaan Sumber Daya Alam Secara Adil
Dalam Islam, sumber daya alam bukanlah milik individu atau korporasi, tetapi milik umat yang harus dikelola oleh negara untuk kemaslahatan rakyat. Oleh karena itu, negara tidak boleh memberikan izin kepada korporasi untuk mengeksploitasi hutan, sungai, atau daerah resapan tanpa memperhatikan dampak ekologisnya. Sebaliknya, negara harus mengelola sumber daya alam dengan bijak agar tidak terjadi kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana.
Kesimpulan: Solusi Hakiki bagi Banjir
Banjir bukanlah bencana alam yang tak bisa dicegah, tetapi akibat dari kesalahan tata kelola yang berulang dalam sistem kapitalisme. Kebijakan yang berorientasi pada keuntungan ekonomi semata telah mengorbankan keseimbangan lingkungan dan keselamatan rakyat. Jika paradigma pembangunan ini tidak diubah, maka banjir akan terus berulang tanpa ada solusi nyata.






























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…