BANDA ACEH – Umat Islam harus tetap berusaha melaksanakan shalat fardhu berjamaah sebagaimana kebiasaan yang telah kita bangun selama Ramadhan. Ini untuk menjaga kestabilan ibadah pasca Ramadhan. Waktu shalat Jumat juga perlu diperhatikan dengan datang lebih awal ke masjid, bukan menunggu hingga azan berkumandang atau imam naik ke mimbar baru berangkat ke masjid.
Dosen Luar Biasa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Didi Wahyudi akan menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Hidayah Dusun Meusara Agung, Gampong Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, 4 April 2025 bertepatan dengan 5 Syawal 1446 H.
Ia menguraikan, kebiasaan tilawah Al-Qur’an juga harus terus dilanjutkan. Jika selama Ramadhan kita mampu khatam Al-Qur’an, maka setelahnya kita juga bisa melanjutkan dengan membaca dan menghafalkannya secara rutin. Puasa sunnah pun dapat menjadi sarana untuk menjaga semangat ibadah, seperti puasa Syawal, Senin – Kamis atau Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriah).
“Selain itu, semangat berbagi dan beramal sosial juga harus tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari. Sedekah, infak, dan kepedulian terhadap sesama hendaknya tetap menjadi bagian dari diri kita, sebagaimana yang telah kita lakukan selama Ramadhan,” ungkapnya.
Anggota Korps Dai IKADI Aceh ini menyampaikan, dengan izin Allah, kita telah menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh berkah ini memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa bagi kaum Muslimin. Sejak malam pertama, semangat ibadah begitu terasa, shalat fardhu dan tarawih dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan, masjid-masjid dipenuhi jamaah, dan sahur bersama keluarga menjadi momen kebersamaan yang berharga.
“Di siang hari, aktivitas pekerjaan tetap berjalan dengan penuh semangat. Menjelang waktu Zuhur, kita bersegera menuju masjid untuk shalat berjamaah,” ujarnya. Ia menambahkan, begitu juga dengan berbagai program ibadah yang dijalankan: shalat tarawih, qiyam Ramadhan (qiyamullail), i’tikaf, khatam Al-Qur’an, muraja’ah kitab dan hafalan, serta berbagai amal sosial seperti bersedekah, menyantuni anak yatim, dan berbagi makanan berbuka puasa. Semua ini menjadi wujud dari semangat ibadah yang luar biasa selama Ramadhan.
Menurut Tgk Didi Wahyudi, Ramadhan yang benar-benar berkesan adalah bagi mereka yang memiliki program ibadah yang jelas dan dijalankan dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, bagi mereka yang hanya berpuasa tanpa memiliki target ibadah yang ingin dicapai, Ramadhan akan terasa biasa saja dan berlalu begitu saja. Jika seseorang merasa bahwa Ramadhan tahun ini sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya tanpa ada peningkatan, maka itu menandakan bahwa ia belum memahami hakikat waktu yang terus berganti dan peluang yang diberikan Allah.
































































































