ACEH BESAR – Malam Ramadhan itu berlangsung seperti biasanya di Masjid Baitul Maghfirah, Gampong Paya Tieng, Kecamatan Peukan Bada. Jamaah baru saja menunaikan shalat tarawih. Suasana masjid tenang, hanya terdengar bisik doa dan langkah jamaah yang merapikan saf untuk melaksanakan shalat witir.
Di antara barisan jamaah, berdiri seorang lelaki tua yang sudah sangat akrab bagi warga. Tubuhnya renta, langkahnya pelan, namun hampir tak pernah absen dari masjid. Ia dikenal dengan panggilan hangat: Kakek Safari.
Tak seorang pun menyangka, malam itu menjadi sujud terakhirnya.
Pada rakaat pertama shalat witir, Kakek Safari menghadap Sang Khalik. Ia berpulang dalam keadaan shalat, di rumah Allah, pada malam bulan Ramadhan. Kepergiannya membuat jamaah terdiam—duka bercampur haru menyelimuti masjid yang selama ini menjadi saksi istiqamah hidupnya.
Kisah kehidupan Kakek Safari dituturkan oleh Muhammad Yani, S.Pd.I., M.Ag., Ketua Bidang Ibadah dan Pengajian DKM Masjid Baitul Maghfirah Paya Tieng, yang selama ini menyaksikan langsung keseharian almarhum.
“Kami hampir selalu melihat beliau di masjid. Datang lebih awal, duduk tenang menunggu iqamah, lalu shalat tanpa banyak bicara,” ujar Muhammad Yani mengenang.
Bagi masyarakat sekitar, Kakek Safari bukan tokoh besar. Ia hanyalah pekerja sederhana yang mencari nafkah dengan becak angkut barang. Namun justru kesederhanaannya itulah yang meninggalkan kesan mendalam.
Setiap azan berkumandang, terutama magrib, isya, dan subuh, ia berjalan menyusuri jalan ateung tuha menuju masjid. Sementara pada waktu dhuhur dan ashar, ia menunaikan shalat di menasah Gampong Baro atau Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, menyesuaikan dengan lokasi tempatnya bekerja.
Menurut Muhammad Yani, almarhum dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan memiliki semangat belajar yang tinggi dalam urusan ibadah.
“Kalau ada amalan yang belum ia pahami, beliau akan bertanya. Setelah itu langsung dipraktikkan. Lisannya lembut dan tidak pernah menyakiti orang lain,” katanya.
Kakek Safari tidak dikenal sebagai pemberi ceramah atau sosok yang menonjolkan diri. Namun keteladanannya hadir melalui kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus: menjaga shalat berjamaah.
Kepergiannya menjadi pengingat yang kuat bagi jamaah tentang makna istiqamah. Banyak yang merasa seakan dinasihati tanpa kata-kata.
Sering kali manusia memohon husnul khatimah dalam doa-doanya. Namun kisah Kakek Safari mengajarkan bahwa akhir kehidupan sejatinya adalah cerminan dari kebiasaan yang dijalani sepanjang hidup. Mereka yang akrab dengan masjid, mungkin akan dipanggil dalam keadaan yang sama.















































































































