Penulis: Hanny N.**
Sebelum lawatan ke Timur Tengah, pada 9 April 2024, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan gagasan evakuasi warga Palestina sebagai korban perang.
Ada dua syarat agar evakuasi bisa terealisasi yaitu pertama, mendapat dukungan penuh negara-negara Tetangga di Timur Tengah. Kedua, kewajiban mengembalikan setelah kondisi aman dan proses pengobatan korban sudah dianggap cukup. Statement presiden ini telah menimbulkan pro-kontra dalam negeri.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia siap menerima 1.000 warga Gaza sebagai pengungsi kemanusiaan memunculkan sorotan tajam dari berbagai pihak. Alih-alih menjadi solusi, langkah ini justru patut dipertanyakan, benarkah ini bentuk kepedulian? Ataukah tanpa sadar justru memuluskan agenda penjajah Zionis untuk mengusir rakyat Palestina dari tanah mereka sendiri?
Dalam narasi kemanusiaan, langkah evakuasi mungkin tampak mulia. Tapi jika dilihat dari kacamata perjuangan dan fakta historis, ini merupakan bentuk normalisasi terhadap pengusiran massal warga Palestina yang selama ini dilakukan oleh penjajah Israel. Ketika warga Gaza diungsikan, yang terjadi bukanlah solusi atas konflik, tetapi penguatan atas proyek jangka panjang penjajah yakni mengosongkan tanah Palestina dari penduduk aslinya dan menancapkan kekuasaan penuh Zionis atas wilayah itu.
Bukankah seharusnya yang diusir adalah penjajah Zionis, bukan rakyat Gaza?
Menjauh dari Solusi Hakiki: Jihad Membebaskan Palestina
Seiring dengan semakin terbukanya mata umat atas kekejaman penjajah, seruan jihad kian menggema dari berbagai penjuru dunia Islam. Umat makin menyadari bahwa seluruh upaya diplomatik, bantuan kemanusiaan, hingga tekanan internasional selama puluhan tahun tak pernah berhasil menghentikan penjajahan dan genosida yang dilakukan Israel. Maka dari itu, wacana jihad—sebagai bentuk pembebasan sejati dari penjajahan—muncul bukan sekadar sebagai seruan emosional, melainkan kebutuhan syar’i yang realistis.
Dalam konteks ini, evakuasi warga Gaza ke negara lain, termasuk Indonesia, jelas kontraproduktif. Ini seperti mengatakan pada rakyat Palestina: “Kalian tidak bisa menang, lebih baik menyerah dan pergi.” Padahal semangat rakyat Gaza hingga hari ini tetap membara. Mereka tetap teguh di tanah air mereka meskipun dibombardir siang malam. Evakuasi justru bisa memadamkan api perjuangan itu.
Tekanan Global dan Ketergantungan: Simalakama Negeri Lemah
Langkah Indonesia dalam menerima pengungsi Palestina juga tak bisa dilepaskan dari dinamika hubungan internasional. Baru-baru ini, Amerika Serikat menaikkan tarif impor terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia. Dalam konteks ini, kebaikan yang ditawarkan pemerintah bisa saja bukan berdiri atas dasar kemanusiaan semata, melainkan bagian dari transaksi politik global.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler