ADVERTISMENT
OPINI
OPINI

Dakwah itu Masuk Lorong, Bukan Cuma di Mimbar

Penulis: Rahmatal Riza**

DI banyak kesempatan, kita sering sekali mendengar kata “dakwah” seakan-akan cuma soal ceramah, khutbah, atau tabligh akbar di atas panggung. Seolah tugas mulia itu hanya sah dilakukan oleh mereka yang berpakaian gamis, bersorban, dan bersuara lantang dari balik mikrofon. Padahal, kalau kita mau jujur, sejak kapan agama dibatasi ruang geraknya hanya di atas mimbar? Sejak kapan dakwah hanya boleh dilakukan di forum formal yang penuh dengan kata “hadirin sekalian yang saya muliakan”?

Sebagai mahasiswa Fakultas Dakwah, penulis sering berpikir, sebenarnya tugas kita itu cuma mempersiapkan diri jadi penceramah dadakan di pengajian tujuh hari kematian atau benar-benar jadi agen perubahan sosial seperti yang sering dibanggakan dalam visi misi fakultas? Soalnya, realita di kampus lebih sering ngajarin kita cara ceramah yang retoris, lomba khutbah Jumat, atau teknik retorika. Oke lah, itu penting. Tapi umat bukan hanya butuh suara bagus dan dalil panjang lebar, mereka butuh solusi.

Berita Lainnya:
Bersiap Harga BBM Meledak

Sementara di luar sana, masyarakat berhadapan dengan problematika yang jauh lebih kompleks daripada sekadar perdebatan soal bid’ah atau tidaknya qunut subuh, masalah siapa yang duluan Hari Raya Idul Fitri dan yang belakangan. Masalah pengangguran, kemiskinan, kesehatan mental, ketimpangan pendidikan, dan krisis lingkungan menjadi masalah nyata yang sehari-hari dirasakan oleh masyarakat. Tapi sayangnya, hal-hal kayak gini masih sering dianggap bukan urusan dakwah. Dakwah seakan-akan dibatasi dalam wilayah teks-teks agama tanpa konteks sosial yang jelas.

Banyak yang lupa, dakwah itu lahir dari realitas sosial. Nabi Muhammad SAW pun memulai dakwah bukan dari podium, tapi dari lorong-lorong Makkah, tempat di mana kemiskinan, ketidakadilan, perbudakan, dan ketimpangan sosial jadi pemandangan sehari-hari. Dakwah itu tentang memberdayakan masyarakat, bukan sekadar memberitahu. Tentang merangkul yang terlupakan, bukan cuma menyenangkan mereka yang sudah alim.
Kalau kita baca literatur-literatur dakwah klasik maupun kontemporer, konsep dakwah itu seharusnya bisa menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Dakwah tidak boleh statis dan kaku, apalagi hanya mengikuti template ceramah dari buku panduan Khutbah Jum’at. Khususnya di Banda Aceh, permasalahan sosial yang terjadi tidak bisa diselesaikan hanya dengan ayat dan hadis tanpa aksi nyata.

Berita Lainnya:
Iran Menolak Tunduk kepada Trump

Contoh kecil, fenomena maraknya anak muda yang melakukan pelanggaran syariat dengan yang bukan mahramnya di beberapa kawasan kota. Selama ini, solusi dakwah yang sering ditawarkan cuma sebatas pengajian, tabligh akbar, atau ceramah motivasi. Padahal, yang dibutuhkan adalah pembinaan peran orang tua, pendampingan psikologis, akses lapangan kerja, lingkungan sosial yang sehat, komunitas yang suportif ataupun kegiatan kepemudaan yang kreatif dan menghasilkan. Itu semua bagian dari dakwah, tapi sayangnya belum banyak disentuh secara serius oleh mahasiswa Fakultas Dakwah.

image_print
1 2 3
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya