THE New York Times telah mengakui Operasi Bunyan e Marsous sebagai keberhasilan militer yang signifikan bagi militer Pakistan. Mengutip laman nytimes.com pada Jum’at (16/5/2025) yang melaporkan bahwa meski negara tersebut telah lama dilanda krisis politik, ekonomi dan keamanan namun mengalami perubahan yang penting setelah kemenangannya melawan agresi India.
Benarkah demikian keadaannya? Ataukah media mengelabui kita semua? Karena jika pun pertempuran ini berakhir, toh yang bertepuk tangan pada akhirnya adalah AS! Jadi siapa pemenangnya? Ada apa di balik pertempuran ini?
Ada baiknya sebelum membahas perang ini, kita mengulas fakta-fakta hubungan Pakistan-AS-India untuk memahami betapa liciknya AS.
Pertama, Partai Bharatiya Janata (BJP) telah berkuasa di India dari tahun 1998 hingga 2004, kemudian kembali berkuasa di bawah kepemimpinan Narendra Modi pada tahun 2014 hingga saat ini. BJP sangat pro kepada AS, dan bagi AS India adalah salah satu kekuatan dalam strategi Eurasia-nya, untuk menghadapi dan mengepung China.
AS menjadi motor kemenangan supremasi Hindu Modi pada tahun 2014. Oleh sebab itu Modi senantiasa melayani AS, baik dalam aneksasi Kashmir pada tahun 2019, atau dalam bentrokan perbatasan dengan China pada 2014, 2017 dan 2020. India juga berkontribusi dalam misi AS terhadap Afghanistan, atau dalam kegagalan Koridor Ekonomi China-Pakistan.
Kedua, Melalui Modi Amerika meningkatkan tekanan terhadap China terutama sejak pengumuman perang dagang AS-China, kita melihat bagaimana sejumlah kapitalis AS mengalihkan pabriknya ke India. Baru-baru ini Apple misalnya berencana memindahkan perakitan semua iPhone yang dijual di AS ke India. Oleh sebab itu penguatan dukungan terhadap India menjadi sebuah keniscayaan, baik penguatan ekonomi maupun militer, termasuk mentransfer teknologi nuklirnya.
Namun, AS memiliki masalah lain, ketika Pakistan juga tampil sebagai negara yang juga sangat loyal kepadanya. Sementara kedua negara ini berseteru. AS melihat bahwa ketegangan atas Kashmir antara India dan Pakistan melemahkan konfrontasi India dengan China.
Untuk mengatasi hal tersebut, AS memulai proses normalisasi antara kedua negara melalui meja dialog untuk mencegah konflik militer. Trik yang sama diterapkan AS terhadap otoritas Abbas di Palestina dan negara-negara Arab lainnya untuk menghalau konflik militer dengan Israel. Akibatnya Modi menjadi jumawa dan mulai mencaplok Kashmir.
Di sisi lain AS lebih mementingkan India berhadapan dengan China bukan melawan Pakistan. Namun pasukan Pakistan di perbatasan membatasi pergerakan pasukan India menuju garis depan China. Oleh sebab itu AS mendorong Pakistan memindahkan pasukannya menjauh dari perbatasan India ke daerah suku Waziristan yang memerangi kelompok jihad Taliban Pakistan, dan di Balochistan untuk memerangi Tentara pembebasan Balochistan, juga ke perbatasan Afghanistan.































































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…