ADVERTISMENT
OPINI
OPINI

Jika Marah Disebut Intoleran, Maka Biarlah Kami Jadi Intoleran

Ketika kami mengorganisir diri, mereka kirim aparat. Ketika kami bicara di media, kami disebut provokator. Ketika kami memblokir jalan proyek, kami dituduh menghambat pembangunan. Mereka ingin kami diam, tertib, tunduk. Tapi mereka lupa satu hal Aceh tidak pernah tumbuh dari ketertundukan. Darah kami menyimpan ingatan tentang Teuku Umar dan Hasan di Tiro, bukan tentang konsultan proyek dan menteri ESDM.

Hari ini kami sadar bahwa sistem ini tidak bisa direformasi. Ia harus dilawan. Bukan hanya oleh Aceh, tapi oleh seluruh wilayah yang dijadikan “halaman belakang pembangunan nasional”. Oleh Kalimantan yang hutannya digunduli. Oleh Papua yang tambangnya tak pernah menyejahterakan. Oleh Sulawesi yang tanahnya dibelah demi nikel untuk mobil listrik orang kaya. Ini bukan soal Aceh semata. Ini soal logika pembangunan yang sejak awal hanya menjadikan daerah sebagai bahan bakar, bukan penumpang.

Berita Lainnya:
Jokowi Memang sudah Selesai, Tapi Masih Ada Gibran dan Kaesang

Sudah saatnya rakyat dari bawah menyusun kekuatan sendiri. Kita tidak bisa menunggu pusat sadar. Kesadaran tidak lahir dari seminar atau statement simpatik. Ia lahir dari kemarahan yang diorganisir. Dari kemarahan yang tidak lagi ditumpahkan di Instagram atau status WhatsApp, tapi dijadikan energi kolektif untuk mendirikan koalisi alternatif rakyat.

Dan terakhir, kita harus mendefinisikan ulang makna nasionalisme. Nasionalisme bukan tentang mencintai negara tanpa syarat. Nasionalisme adalah mencintai rakyat, mencintai tanah, dan mencintai hidup yang adil. Jika negara terus menjadi alat penindas, maka melawan negara adalah tindakan paling nasionalis yang bisa dilakukan oleh rakyat.

Berita Lainnya:
APBN di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Mulai Dipertanyakan

Mereka boleh menyebut kita ekstremis. Mereka boleh mengancam dengan pasal makar. Tapi sejarah akan mencatat bahwa kami bersuara karena kami cinta tanah ini. Dan cinta yang paling murni adalah cinta yang melawan ketidakadilan, bukan cinta yang tunduk pada perintah pusat.

Jadi sekali lagi, kami bukan marah karena benci. Kami marah karena terlalu lama bersabar. Dan sekarang, kesabaran itu habis.[]

image_print
1 2 3 4
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya