Udara bersih adalah hak asasi yang seharusnya dijamin negara, bukan komoditas yang dikorbankan demi kepentingan industri.
Oleh: Hanny N
JAKARTA menduduki posisi pertama sebagai kota besar paling berpolusi di dunia pada Sabtu (9/8/2025) pagi, berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.50 WIB. Dilansir dari Antara, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta berada pada angka 168 atau masuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM 2.5 dan nilai konsentrasi 80 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut menunjukkan tingkat kualitas udara di ibu kota berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, yakni dapat merugikan manusia maupun kelompok hewan yang sensitif serta dapat menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.
Fakta Dampak Polusi di Indonesia
Data IQAir pada 2024 menunjukkan bahwa Jakarta kerap masuk 10 besar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Konsentrasi PM2.5 di udara sering kali mencapai lebih dari 7 kali lipat di atas batas aman WHO. Dampaknya tidak main-main: Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan kasus ISPA yang signifikan pada musim polusi, bahkan mencapai lebih dari 200 ribu kasus per bulan di Jabodetabek. Studi Universitas Indonesia memperkirakan polusi udara menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp 51 triliun per tahun, baik dari sisi biaya kesehatan maupun hilangnya produktivitas.
Masalah ini bukan sekadar gangguan kenyamanan, tapi ancaman serius bagi kesehatan, ekonomi, dan masa depan generasi muda.
Kapitalisme: Sistem yang Mencemari Udara dan Pikiran
Polusi udara telah menyebabkan berbagai penyakit pernapasan, penurunan kualitas hidup, bahkan kematian dini. Namun, akar persoalan ini bukan hanya soal teknis transportasi atau industri, melainkan paradigma sistem yang mengatur kehidupan kita—yakni kapitalisme.
Kapitalisme memandang segala sesuatu, termasuk lingkungan, hanya sebagai sumber keuntungan. Industri dipacu untuk memproduksi sebanyak mungkin dengan biaya serendah mungkin, sementara regulasi lingkungan sering dianggap penghambat bisnis. Kendaraan pribadi terus digencarkan melalui iklan dan kemudahan kredit, tanpa memperhitungkan dampak jangka panjang terhadap kualitas udara.
Hasilnya, kota-kota besar dijejali kendaraan bermotor yang setiap hari memuntahkan jutaan ton emisi karbon. Industri dan pembangkit listrik tenaga batu bara dibiarkan beroperasi dengan standar emisi longgar demi menarik investasi. Bahkan ketika polusi sudah mengkhawatirkan, solusi yang ditawarkan masih berputar di ranah bisnis—seperti kendaraan listrik—yang justru tetap berada dalam lingkaran kapitalisme dan belum tentu menyelesaikan masalah di hulunya.
Islam: Paradigma yang Memuliakan Lingkungan
Berbeda dengan kapitalisme, Islam memandang lingkungan sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dijaga. Manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi, bukan sebagai penguasa absolut yang bebas mengeksploitasi. Allah SWT berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41)
































































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…