OPINI
OPINI

Menenun Harum Parfum di Tengah Tantangan Kesehatan dan Syariat

Menyatukan Harum Parfum, Kemanusiaan, dan Nilai Islam

Untuk mewujudkan mimpi kota parfum yang inklusif, Banda Aceh perlu merajut ketiga dimensi ini secara harmonis:

Pertama; Ekonomi Hijau yang Memberdayakan

Hilirisasi nilam di Banda Aceh perlu dirancang agar tidak hanya berfokus pada keuntungan ekonomi, tetapi juga mampu memberdayakan kelompok rentan, termasuk orang dengan HIV/AIDS (Odha). Melalui pelatihan UMKM berbasis parfum, mereka dapat memperoleh keterampilan sekaligus penghasilan mandiri. ARC USK telah membuktikan keberhasilan model ini lewat koperasi inovasi yang mampu meraih omzet hingga Rp700 juta per bulan. Skema serupa dapat diperluas dengan dukungan pendanaan syariah yang inklusif, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Kedua; Pelayanan Kesehatan yang Tepat dan Penuh Kepedulian

Pengendalian HIV di Banda Aceh memerlukan layanan kesehatan yang mengutamakan ketepatan tindakan sekaligus kepedulian terhadap pasien. Kebijakan pelarangan k*nd*m yang telah dicabut perlu diikuti langkah distribusi yang aman melalui klinik terpercaya -jika diperlukan, agar pencegahan tetap berjalan efektif. Layanan ini sebaiknya disertai konseling pranikah di masjid, sehingga edukasi kesehatan selaras dengan nilai-nilai syariat Islam, namun tetap melindungi masyarakat dari risiko penularan HIV.

Ketiga; Syariat yang Melindungi, Bukan Menghakimi

Penerapan syariat Islam di Aceh harus diarahkan untuk melindungi masyarakat, bukan menghakimi. Lembaga keistimewaan seperti Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dan Majelis Adat Aceh (MAA) dapat menjadi mitra strategis dalam memberikan edukasi pencegahan HIV yang ilmiah dan bebas stigma. Gagasan “Desa Bebas HIV” bisa diintegrasikan dengan gerakan “Gampong Atsiri,” di mana penanaman nilam disertai dengan sosialisasi kesehatan berbasis komunitas.

Harum yang Belum Merata

Banda Aceh berdiri di persimpangan sejarah, menjadi pusat parfum dunia yang inklusif, atau terjebak dalam paradoks kemajuan ekonomi yang dibayangi ketimpangan kesehatan dan penegakan syariat yang kaku. Kunci keberhasilannya terletak pada kolaborasi otentik—petani, ulama, LSM kesehatan, dan peneliti—dalam menyatukan “harum” nilam dengan “harum” kemanusiaan. Seperti zikir dalam setiap tetes minyak nilam, transformasi ini membutuhkan kesabaran, ilmu, dan niat ikhlas: merajut kemakmuran tanpa meninggalkan satu pun warga di belakang.

image_print
1 2

Reaksi

Berita Lainnya