TRAGEDI kematian Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang tewas digilas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi di depan DPR RI pada 28 Agustus 2025, menjadi luka baru dalam sejarah demokrasi Indonesia.
Affan bukan sekadar korban individual, tetapi simbol rakyat kecil yang tersapu oleh pusaran politik, kebijakan yang timpang, dan aparat yang brutal.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di rumah duka patut diapresiasi: ia menandai bahwa negara berempati, meminta maaf secara terbuka, dan tidak menolerir kekerasan aparat.
Namun, di balik pelukan dan janji investigasi, tersimpan persoalan struktural yang jauh lebih dalam.
Demonstrasi besar di Jakarta sebenarnya telah berlangsung sejak 25 Agustus 2025.
Ribuan massa dari berbagai elemen—mahasiswa, buruh, pelajar, hingga komunitas ojol—menyuarakan sembilan tuntutan, mulai dari pembubaran DPR, transparansi kenaikan gaji anggota dewan, hingga penghentian proyek penulisan ulang sejarah nasional.
Aksi yang awalnya damai berubah menjadi ricuh ketika massa membakar pos polisi dan terlibat bentrokan dengan aparat, menyebabkan transportasi umum lumpuh, tol dalam kota macet, hingga kerugian ekonomi nyata: rupiah melemah hampir 1%, IHSG anjlok 2%, sekolah terpaksa membubarkan siswa lebih awal, dan perbankan menerapkan kerja dari rumah.
Dalam teori konflik Lewis Coser, demonstrasi seperti ini adalah ekspresi dari ketegangan laten akibat distribusi ketidakadilan yang timpang. Ketidakpuasan publik yang menumpuk tidak hilang begitu saja, melainkan menunggu momentum untuk meledak.
Peristiwa Affan Kurniawan hanyalah pemicu, bukan penyebab utama. Ia ibarat percikan yang menyulut tumpukan kekecewaan panjang terhadap elit politik, kebijakan yang tidak pro rakyat, serta lemahnya institusi negara dalam menjamin keadilan sosial.
Prabowo, dalam hal ini, bukan pencipta masalah. Ia sedang memanen “warisan krisis” dari rezim sebelumnya, khususnya era kepemimpinan Jokowi yang meninggalkan banyak bom waktu kebijakan.
Dalam konsep path dependence, arah kebijakan hari ini tidak bisa dipisahkan dari jalan panjang yang sudah ditempuh sebelumnya.
Pilihan-pilihan politik di masa lalu membentuk keterbatasan ruang gerak pemerintahan sekarang.
Artinya, Prabowo kini menjadi “korban sejarah” yang dipaksa menanggung konsekuensi kebijakan lama.
Namun, fakta lain juga tidak bisa diabaikan. Max Weber menegaskan bahwa legitimasi negara bertumpu pada monopoli penggunaan kekerasan yang sah.
Tetapi ketika aparat bertindak brutal hingga merenggut nyawa rakyat, maka yang muncul bukan legitimasi, melainkan delegitimasi.














































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler