Baik negara maju maupun negara berkembang telah mendirikan dana kekayaan negara (SWF) untuk mengelola surplus pendapatan negara. Dana ini memiliki potensi besar untuk membantu negara-negara rapuh mengelola arus masuk pendapatan yang tinggi dari sumber daya alam yang menguntungkan dan melindungi perekonomian mereka dari volatilitas dan investasi yang tidak berkelanjutan.
Namun, pemerintah negara-negara rapuh seperti Indonesia yang baru-baru ini mendirikan Lembaga Dana Kekayaan Negara (SWF) atau sedang mempertimbangkan untuk membuatnya harus berhati-hati: agar berhasil, SWF harus dikelola dengan baik, mengikuti standar internasional, melakukan investasi yang bijaksana, dan mematuhi kerangka peraturan yang ketat. Tidak semua negara rapuh mampu melakukan hal-hal tersebut.
Pada akhirnya Presiden Prabowo mengambil kebijakan untuk membentuk Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Funds/SWF) atau Danantara yang merupakan alat utama untuk mengatasinya dengan menghemat pendapatan dari sumber daya alam, mencegah perekonomian terlalu panas, menstabilkan ekonomi dalam jangka panjang, dan mengarahkan dana, namun Danantara yang efektif membutuhkan tata kelola yang kuat untuk menghindari korupsi dan memastikan pengeluaran yang bijaksana, tidak seperti pengeluaran ad-hoc yang memperburuk Penyakit Belanda.
Di mana Danantara yang dibentuk oleh Presiden Prabowo diharapkan menjadikan Dana Kekayaan Negara (SWF) yang merupakan dana investasi milik negara yang didirikan untuk mengelola, menyalurkan, dan menginvestasikan surplus pendapatan nasional, biasanya dari ekspor sumber daya alam yang menguntungkan.
Danantara dimaksudkan untuk dijalankan oleh Badan independen dan apolitis yang menentukan bagaimana uang tersebut harus diinvestasikan.
Meskipun sebagian besar dibiayai dengan mata uang asing, Danantara dikelola secara terpisah dari cadangan devisa resmi, dengan menempatkan kelebihan pendapatan ke dalam dana, daripada selama ini membiarkannya masuk ke perekonomian, yang diharapkan pemerintah dapat memperlancar dan mengelola harga pasar dalam jangka panjang, yang merupakan tantangan besar bagi negara-negara kaya sumber daya seperti Indonesia.
**). Penulis adalah Pengamat Politik & Ekonomi






























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…