Instrumen utang itu terdiri dari Surat Berharga Negara Rp749,2 triliun dan pinjaman luar negeri serta dalam negeri Rp32,7 triliun.
Mari kita tertawa bersama, di satu sisi Prabowo berpidato lantang melawan asing, di sisi lain ia justru berutang pada mereka. Apakah ini bentuk perlawanan? Atau justru bentuk cinta yang tak diakui?
Nuan bayangkan, seorang tokoh yang berjanji “siap mati untuk rakyat Indonesia” ternyata harus hidup dengan napas yang dipompa oleh kredit asing. Tapi, begitulah kenyataan fiskal.
Publik pun dibuat penasaran. Siapa sebenarnya kekuatan asing itu? Apakah sekelompok bankir internasional yang tertawa di balik layar?
Apakah negara-negara yang menerima kunjungan diplomatik Prabowo? Ataukah sekadar sosok imajiner yang diciptakan untuk membakar semangat nasionalisme?
Jawabannya tidak pernah jelas, dan mungkin tidak akan pernah jelas. Justru di situlah letak kekuatan retorika ini. Ia tidak perlu menunjuk siapa pun, cukup menyebut “asing” dan rakyat akan merasa ada musuh bersama.
Sementara itu, Prabowo tetap terbang ke luar negeri, menandatangani kerja sama, berutang, dan berfoto bersama para pemimpin dunia.
Sebuah paradoks yang begitu indah, begitu satir, dan begitu hiperbolis, hingga kita semua bertanya-tanya: apakah kekuatan asing itu nyata, atau hanya bayangan yang sengaja dipelihara untuk membuat rakyat terus waspada? ***
































































































