OPINI
OPINI

Penculikan Maduro dan Perang Gaya Baru

Oleh: Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte 1

GILA. Benar-benar gila. Sabtu malam itu, langit Caracas tidak sekadar gelap. Ia penuh sesak. Ada 150 pesawat di atas sana. Mereka datang dari 20 pangkalan berbeda. Dari Florida. Dari Puerto Rico. Dari geladak kapal induk.

Semuanya bertemu di satu titik koordinat. Di detik yang sama. Tanpa saling tabrak. Tanpa terdeteksi. Ini bukan lagi operasi militer. Ini sihir logistik.

Mari kita bedah jeroannya. Agar kita tahu betapa mengerikannya dunia tempat kita hidup sekarang.

Orkestrasi Hantu Langit

Yang terjadi di udara itu sebuah mahakarya teknis.Di lapisan paling atas, ada E-3 Sentry. Pesawat radar piringan jamur itu. Ia jadi dirigen. Mengatur lalu lintas tempur agar tidak kacau.

Di bawahnya, ada F-35 Lightning II. Perhatikan detail ini: F-35 tidak menembakkan satu peluru pun.

Tugasnya cuma satu: menjadi “pengendus”. Sensor fusion-nya menyedot semua sinyal elektronik dari daratan Venezuela. Begitu radar S-300 buatan Rusia milik Venezuela menyala, F-35 mengirim data ke belakang.

Berita Lainnya:
Ogah Jadi 'Stempel' Trump, Vatikan Tolak Gabung Board of Peace: Krisis Gaza Urusan PBB!

Di sana sudah menunggu EA-18G Growler. Pesawat perang elektronika. Boom! Bukan bom yang dijatuhkan. Tapi sinyal jamming bertenaga tinggi.

Layar radar di Caracas tidak meledak. Hanya memutih. Buta total. Operator radar Venezuela cuma bisa bengong melihat semut di layar monitor.

Saat buta itulah, tamu utamanya masuk. Resimen Operasi Khusus Penerbangan ke-160. Julukannya Night Stalkers. Mereka membawa helikopter MH-47 Chinook.

Terbangnya sinting. Hanya 30 meter di atas ombak Laut Karibia. Memanfaatkan sea clutter (gangguan ombak) untuk sembunyi dari sisa-sisa radar.

Mereka mendarat di jantung kota. Delta Force turun. FBI turun. Lima jam. Selesai. Presiden Nicolás Maduro diangkut ke kapal induk USS Iwo Jima. Seperti paket kilat JNE.

Berita Lainnya:
Kapolri dan Jokowi Pejuang bagi Kepentingannya Masing-masing

Ruang Server dan AI Kematian

Tapi tunggu dulu. Pasukan elite itu cuma penyapu sampah. Pembunuh aslinya tidak memegang senapan. Ia duduk manis di dalam kabel optik bawah laut. Sebulan lalu, Amerika diam-diam menyebar senjata baru: AI Finansial. Dulu, sanksi ekonomi itu manual. Orang mengecek dokumen satu-satu.

Sekarang? Algoritma yang bekerja. AI ini ganas. Ia tidak memburu nama perusahaan. Ia memburu pola. Ada kapal tanker Venezuela mau beli bahan bakar di tengah laut? AI mendeteksi pola transfer uangnya. Lewat Panama. Lewat Hong Kong. Klik langsung diblokir.

Kapal-kapal tanker itu menjadi bangkai besi terapung. Mesinnya hidup, tapi tak bisa bergerak. Asuransi maritim dari London diputus otomatis. Biaya sandar pelabuhan ditolak. Logistik Venezuela dicekik sampai biru. Tanpa bensin, tank tidak jalan. Tanpa uang, jenderal tidak setia.

image_print
Catatan Kaki:
  1. Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana[]
1 2
Geser »

Imsakiyah Ramadhan 1447 H

Kota Banda Aceh & Sekitarnya

Harian Aceh Indonesia
Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh
Tanggal Imsak Subuh Dzuhur Ashar Maghrib Isya
Memuat data resmi...
Update Terbaru
A

Novita Sari Yahya

20 Feb 2026

Ibu yang Menjaga Api Kehormatan
A

Asmaul Husna

20 Feb 2026

Nyanyian Rindu
A

Redaksi

20 Feb 2026

Bedah Buku – Of Grammatology
A

Rosadi Jamani

20 Feb 2026

Kadis Kesehatan Itu Gugur di Meja Kerja
A

Paulus Laratmase

20 Feb 2026

Fenomena, Kekuasaan, dan Realitas Sosial
A

Tabrani Yunis

20 Feb 2026

Perjalanan Suci Sang Mentari
A

Redaksi

20 Feb 2026

Personal Branding
A

Redaksi

20 Feb 2026

Filosofi Jarimu
A

Tabrani Yunis

19 Feb 2026

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan
A

Tabrani Yunis

18 Feb 2026

Kelas Afirmasi Masih Perlu

Reaksi

Berita Lainnya