Ironinya makin nikmat ketika diingat. Dari 76 partai itu, hanya 18 yang ikut Pemilu 2024. Dari 18 itu, cuma delapan yang berhasil lolos ambang batas parlemen. Sisanya seperti sambal etalase, cantik, pedas di nama, tapi tak pernah dipesan.
Namun fakta ini sama sekali tak menyurutkan semangat mendirikan partai baru. Di politik Indonesia, kegagalan bukan akhir cerita, ia hanya tanda ganti botol dan stiker.
Maka masuklah kita ke 2026 dengan optimisme. Gema Bangsa menyiapkan diri menuju Pemilu 2029, membangun struktur sejak 2025, mengklaim diri sebagai jawaban kegelisahan rakyat.
Gerakan Rakyat memilih jalur gerakan sosial yang naik kelas, dengan target jelas mendorong Anies Baswedan ke Istana. Dua jalur, dua rasa, satu dapur bernama demokrasi Indonesia, kompornya menyala terus, minyaknya tak pernah diganti.
Rakyat pun tertawa sambil berkeringat, seperti penonton derby Manchester yang baru saja berteriak gol. Sendok di tangan, sambal di piring, kepala penuh spanduk.
Di tengah hiruk-pikuk 78 partai, satu pertanyaan menggantung pedas di udara, ini kita sedang memilih masa depan bangsa, atau sedang ikut liga sambal nasional dengan sistem degradasi yang tak pernah benar-benar turun kasta?
(Ketua Satupena Kalbar)





























































































