Oleh : Hadi Irfandi
Belakangan, sekolah semakin viral bukan karena prestasi, tapi konflik. Ada murid mengeroyok guru, ada mogok sekolah, ada profesi guru yang dipermalukan ramai-ramai di media sosial. Sebagian kita, termasuk kamu, mungkin bertanya:
“Kenapa relasi di ruang kelas bisa sejauh ini rusaknya”
Kasus-kasus itu bukan kejadian tunggal. Murid mengeroyok guru disebut berawal dari ucapan yang merendahkan martabat. Sebelumnya, mogok sekolah muncul sebagai protes atas tamparan guru kepada murid yang merokok. Di waktu lain, guru jadi sasaran perundungan warganet, yang ironisnya justru orang tua murid atau murid itu sendiri. Ini bukan sekadar soal siapa salah, tapi tanda ada pola relasi yang tak lagi sehat.
Akar masalahnya, pendidikan kita terlalu lama mengukur keberhasilan secara sempit: nilai ujian, peringkat, kelulusan, kesiapan kerja. Pendidikan dianggap jadi proses teknis, sementara adab dan pembentukan karakter cuma jadi jargon. Dalam logika itu, guru diposisikan sebagai penyedia jasa dan murid sebagai konsumen. Wibawa moral pun terkikis. Di saat yang sama, guru dibebani kerja administratif berlebih, tunjangan minim, tekanan publik, dan ancaman pemidanaan.
Ketika murid tumbuh tanpa kesadaran hormat, dan guru kehilangan ruang untuk menjadi teladan, konflik tinggal menunggu waktu. Dengan media sosial pun, segalanya menjadi bola liar: potongan video, amarah massal, penghakiman instan. Padahal yang sedang runtuh bukan cuma disiplin, melainkan relasi paling dasar dalam pendidikan; saat murid tak lagi takzim, dan guru tak lagi benar-benar bisa jadi panutan.
Sekularisme dan Retaknya Adab
Kalau ditarik lebih dalam, konflik dan kekerasan antara guru dan murid bukan sekadar soal emosi sesaat atau lemahnya pengawasan sekolah. Ia adalah api dalam sekam dari pendidikan yang kehilangan spiritnya. Bukan cuma relasi di ruang kelas yang ikut retak, melainkan cara kita memahami ilmu, manusia, dan tujuan belajar itu sendiri.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Syakhshiyyah al-Islamiyyah menjelaskan bahwa perilaku manusia lahir dari mafahim—persepsi yang dibentuk oleh sistem pendidikan dan lingkungan ideologisnya. Maka, ketika mafahim tentang ilmu dan relasi manusia dibangun di atas asas sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan, perilaku yang lahir pun tercerabut dari adab dan nilai sakral. Inilah buah dari sistem pendidikan sekuler yang sejak awal memang berpaling dari al-Qur’an. Padahal Allah SWT telah mengingatkan dengan tegas:
“Dan siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Qur’an), maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit” (QS Thaha : [20], ayat 124).





























































































