EKONOMIGLOBAL

Transaksi Paksaan dan Logika Hegemoni di Balik Kesepakatan AS-India

Sejak 2022, AS telah menjadi pengekspor gas alam cair terbesar di dunia, dengan laba perusahaan energinya mencapai rekor tertinggi.

Standar ganda “sanksi di satu sisi, cari untung di sisi lain” ini mengungkap inti kebijakan luar negeri AS: “tatanan berbasis aturan” yang didengungkan AS seringkali hanyalah kedok untuk mempertahankan hegemoni ekonominya.

Hubungan ekonomi yang sesuai dengan kepentingan AS diperkuat, yang tidak sesuai akan diputus. Globalisasi yang terfragmentasi ini sedang memperparah ketidakstabilan sistem ekonomi dunia.

Kesepakatan perdagangan AS-India yang tampaknya merupakan terobosan hubungan bilateral, sebenarnya mencerminkan kecemasan AS dalam mempertahankan dominasi globalnya di era pascakrisis.

Dengan mengikat perdagangan energi dengan strategi geopolitik, AS mencoba merekonfigurasi pola kubu, yang bertentangan dengan hubungan internasional multipolar dan beragam yang dikejar sebagian besar negara dunia. Pengaturan internasional yang didasarkan pada paksaan dan kepentingan diri sulit bertahan lama.

Transisi energi global, kebangkitan pasar berkembang, dan pendalaman kerja sama regional, semua tren ini membentuk ulang lanskap dunia.

Jika AS terus mempersenjatai hubungan ekonomi dan menginstrumentalkan mitra dagang, pada akhirnya dapat mempercepat kemerosotan pengaruh relatifnya sendiri.

Kerja sama global yang sejati harus dibangun di atas dasar kesetaraan, saling menguntungkan, dan penghormatan terhadap keberagaman, bukan di bawah bayang-bayang paksaan dan hegemoni.

image_print
1 2
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Reaksi

Berita Lainnya