NASIONAL
NASIONAL

Apa Itu Iblis Baal? Dikaitkan dengan Jeffrey Epstein

BANDA ACEH – Siapakah Baal yang dikaitkan dengan Jeffrey Epstein? Sosok ini telah bertransformasi dari dewa badai agung menjadi raja iblis dalam katalog neraka.Kisahnya adalah perjalanan ribuan tahun, dari ritual petani Kanaan ke grimoire para penyihir abad pertengahan.

Jauh sebelum dicap iblis, Baal adalah dewa terpenting di Timur Dekat kuno. Ia adalah Baal Hadad, dewa badai yang menghidupi peradaban.

Hujannya adalah berkah bagi tanaman, gunturnya adalah suara kekuasaan. Lewat tablet Ugarit (1300 SM), kita tahu kisah epiknya: mengalahkan Yam (dewa laut) untuk ketertiban, lalu berperang melawan Mot (dewa kematian) dalam siklus kekeringan dan kelahiran kembali.

Menjadi Musuh dan Iblis

Ketika agama Yahudi monoteistik berkembang, Baal berubah dari dewa saingan menjadi lambang penyembahan berhala.

Pertarungan dramatis Nabi Elia melawan 450 nabi Baal di Gunung Karmel (Kitab Raja-raja) menjadi titik balik sejarah.

Di sini, Yahweh membuktikan kekuasaan-Nya, sementara Baal dipermalukan. Pada era Bait Suci Kedua, dewa-dewa asing mulai didemonisasi menjadi roh jahat.

Para Bapa Gereja awal kemudian menyempurnakan narasi ini: Baal adalah setan yang menyamar.

Raja Pertama di Neraka

Abad Pertengahan dan Renaisans mengkodifikasi Baal sebagai raja neraka. Dalam tiga kitab okultisme utama, perannya jelas:

  • Pseudomonarchia Daemonum (1577): Baal adalah raja pertama neraka, penguasa 66 legiun iblis, berkepala tiga (manusia, katak, kucing).
  • Kunci Solomon Kecil (abad ke-17): Tetap sebagai raja, memberi kemampuan menghilang dan pengetahuan rahasia bagi yang memanggilnya dengan ritual tepat.
  • Dictionnaire Infernal (1863): Ensiklopedia iblis ini memperkuat citra mengerikannya dengan ilustrasi ikonik.

Simbolisme dan Perbandingan

Bentuk mengerikannya adalah simbol dari fragmentasi keilahiannya:

  • Kepala manusia: Otoritas dan akal.
  • Kepala kucing: Misteri dan kelicikan.
  • Kepala katak: Transformasi dan pembusukan.

Ia tidak sendiri. Molokh (dewa api) jadi simbol pengorbanan anak, Astarte (dewi cinta) jadi ratu nafsu.

Proses demonisasi adalah alat Politik-religius untuk mengalahkan saingan.

Nama Baal tak pernah mati. Ia hidup dalam:

  • Okultisme Modern: Masih dipanggil dalam ritual sihir seremonial.
  • Sastra dan Seni: Drama Baal karya Brecht (1918) menjadikannya simbol nafsu liar.
  • Film dan Game: Sering muncul sebagai antagonis utama dalam cerita horor dan fantasi.
  • Baal adalah bukti: sebuah nama bisa lebih abadi dari peradaban yang memujanya. Transformasinya dari dewa menjadi iblis bukan kisah kematian, melainkan adaptasi yang luar biasa dalam memori manusia.
image_print
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Reaksi

Berita Lainnya