NASIONAL
NASIONAL

Surat Perpisahan dari Anak yang Terlalu Cepat Dewasa

OLEH: GDE SIRIANA YUSUF*

   

ADA berita yang tak perlu dibaca keras-keras untuk melukai siapa pun yang membukanya. Cukup dibaca pelan, dan ia sudah menusuk.

Seorang anak berusia sepuluh tahun, siswa kelas IV di sebuah sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Tulisan tangan yang sederhana. Kalimat yang terlalu dewasa untuk umur yang seharusnya masih sibuk menghafal perkalian dan menunggu jam istirahat.

Ia pamit. Ia meminta ibunya tidak menangis. Ia merelakan dirinya pergi. Seorang anak yang belajar memahami hidup jauh sebelum waktunya.

Membaca kisah ini amat menyakitkan hati. Bukan hanya karena kematian seorang anak, tetapi karena kata-kata yang ia tinggalkan terasa seperti hasil perenungan panjang seseorang yang sudah lama sendirian.

Ada kesunyian yang terlalu berat untuk dipikul tubuh sekecil itu. Ada rasa bersalah yang tak seharusnya dikenali anak seusianya. Seolah ia merasa menjadi beban, lalu memilih menghapus dirinya agar dunia orang dewasa terasa lebih ringan.

Bunuh diri bisa menimpa siapa pun, dari kelas sosial mana pun. Tetapi kemiskinan bukan takdir pribadi. Kemiskinan adalah tanggung jawab negara.

Ketika seorang anak meminta uang untuk membeli buku dan pena, lalu permintaan itu tak bisa dipenuhi karena memang tak ada uang, di situlah kita melihat kegagalan yang lebih besar dari sekadar relasi keluarga.

Seorang anak dipaksa memahami keterbatasan hidup terlalu dini. Ia belajar menahan keinginan, membaca wajah orang dewasa, dan memendam kecewa, bukan karena pilihan, tetapi karena keadaan.

Kemiskinan juga membuat banyak anak usia sekolah dasar terpaksa bekerja di sektor informal. Kita melihatnya hampir setiap hari, anak-anak kecil mengamen, menjual tisu di lampu merah, atau berkeliling dari rumah ke rumah.

Saya kerap melihat anak-anak berjualan cobek di pemukiman mewah. Tubuh mereka kecil, langkahnya goyah, kedua pundaknya memikul cobek-cobek yang berat. Di usia ketika mereka seharusnya belajar mengeja masa depan, mereka justru belajar menawar, menahan malu, dan membaca penolakan.

Beginilah kemiskinan memaksa anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya, bukan melalui pelajaran hidup yang romantis, tetapi lewat beban yang nyata dan sunyi.

Ironisnya, negeri ini tidak kekurangan institusi. Kita punya Badan Khusus Percepatan Penghapusan Kemiskinan. Kita punya Kementerian Sosial. Kita punya berlapis program afirmatif untuk daerah tertinggal, dari bantuan tunai hingga intervensi pendidikan.

Di atas kertas, negara tampak hadir dengan rapi dan penuh niat baik. Tetapi di lapangan, seorang anak masih bisa merasa begitu sendiri, begitu tak tertolong, sampai harus mengambil keputusan yang bahkan orang dewasa pun sering tak sanggup memikulnya.

image_print
1 2 3
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Reaksi

Berita Lainnya