Beberapa jaringan lunak seperti kulit dan bulu dapat memancarkan cahaya ketika terkena sinar ultraviolet. O’Connor menjelaskan bahwa tim menggunakan sinar ultraviolet pada tahap-tahap tertentu selama proses preparasi fosil untuk memastikan tidak ada jaringan lunak yang rusak. Ia juga menekankan bahwa beberapa jaringan lunak dan fragmen tulang berukuran sangat kecil dan sangat mudah terlewat jika tidak diamati secara aktif dan cermat.
Dalam proses tersebut, Shinya dan rekannya Connie Van Beek menemukan fitur mikroskopis yang tidak biasa pada tengkorak fosil. O’Connor mengenang bahwa mereka sempat memanggilnya untuk melihat sesuatu yang dianggap aneh. Ia melihat titik-titik kecil yang bercahaya, namun pada saat itu ia belum memahami apa yang sebenarnya sedang diamati.
Untuk memahaminya, O’Connor merujuk pada buku anatomi burung dan menemukan ilustrasi mengenai papila oral. Ia kemudian menjelaskan bahwa burung memiliki deretan tonjolan kecil berdaging di langit-langit mulut yang disebut papila oral. Struktur ini membantu mengarahkan makanan ke tenggorokan dan mencegahnya masuk ke saluran pernapasan.
Setelah membandingkan posisi dan bentuk jaringan yang terawetkan pada mulut Archaeopteryx dengan papila oral pada burung modern, tim menyimpulkan bahwa mereka telah menemukan papila oral pertama dalam catatan fosil sekaligus bukti keberadaannya pada Archaeopteryx.
Peneliti juga mengidentifikasi fitur lain dalam tengkorak yang sebelumnya belum pernah teramati, termasuk serpihan tulang kecil yang ternyata merupakan tulang lidah. O’Connor menjelaskan bahwa tulang tersebut merupakan salah satu tulang terkecil dalam tubuh dan menunjukkan bahwa Archaeopteryx memiliki lidah yang sangat fleksibel, sebagaimana banyak burung modern saat ini.
Melalui pemindaian CT, para peneliti juga menemukan bahwa ujung paruh Archaeopteryx mengandung terowongan kecil yang merupakan jejak saraf. Pada burung modern, struktur serupa membentuk organ sensitif di ujung paruh yang membantu mereka mencari makanan.
Secara keseluruhan, keberadaan papila oral, tulang lidah, dan organ sensitif di ujung paruh menunjukkan bahwa burung pertama telah mengembangkan berbagai strategi untuk menemukan dan menelan makanan secara lebih efisien. Adaptasi tersebut berkembang seiring dengan kemampuan terbang yang membutuhkan energi sangat besar.
O’Connor menyatakan bahwa penemuan ini memperlihatkan perubahan yang sangat jelas dalam cara dinosaurus makan. Tepatnya, saat mereka mulai terbang dan harus memenuhi tuntutan energi yang sangat tinggi.































































































































