BANDA ACEH – Peneliti, Rony Teguh, dan Pakar Digital Forensik, Josua Sinambela, menguraikan kejanggalan ijazah S2 dan S3 Rismon Sianipar dari Yamaguchi University Jepang.
Namun, ada perbedaan dari pernyataan kedua orang tersebut.
Rony Teguh menyebut, kejanggalan ijazah Rismon Sianipar terletak pada dua hal, yakni tidak ditemukan pada sistem di Yamaguchi University dan bahasa yang digunakan.
“Saya juga melihat ini ada kecurigaan, bukan hanya curiga tapi sudah dipastikan 100 persen. Saya cek ke Yamadai, Yamaguchi Daigaku universitas di Yamaguchi.”
“Saya tulis dalam bahasa Jepang bahwa yang bersangkutan tesis dengan master yang tertulis di CV itu tidak ada,” kata Rony dikutip SURYA.CO.ID di tayangan youtube Analis Forensik Digital – DFTalk.
Sementara Josua Sinambela menilai, ijazah Rismon sangat berbeda jauh dengan banyak ijazah dari alumnus di Yamaguchi University yang dia teliti.
Setidaknya ada enam poin yang menjadi sorotan Josua Sinambela, di antaranya warna, stempel, nama rektor, tanda tangan, penulisan huruf yang melenceng, hingga tak disebutkan adanya bidang ilmu di ijazah tersebut.
Lantas, siapa sosok Rony Teguh dan Josua Sinambela?
Rony Teguh
Berdasarkan informasi yang dihimpun SURYA.CO.ID dari akun LinkedIn pribadi Rony Teguh, disebutkan bahwa dirinya merupakan peneliti dan dosen IoT dan AI.
Dia sudah berpengalaman lebih dari 16 tahun dalam komputer jaringan, termasuk keahlian dalam jaringan sensor nirkabel.
Rony mengklaim mahir dalam Python, C++, MATLAB, dan Sistem Informasi Geografis (GIS). Keahlian teknis ini mendukung berbagai proyek inovatif.
Pekerjaan terbarunya berfokus pada pemanfaatan teknologi pembelajaran mendalam untuk pemantauan ekologi, menjembatani kecerdasan buatan dengan upaya konservasi lingkungan.
Rony menyebut sudah menghasilkan enam hak cipta dalam inovasi Internet of Things (IoT) dan aplikasi pajak (Aplikasi I-Tax).
Sementara terkait pendidikan, Rony mendapat gelat Master of Engineering dari UGM pada Februari 2002.
Lalu, gelar Ph.D diraih dari Hokkaido University, Jepang pada September 2014.
Sementara untuk aktivitasnya, sejak November 2024, Rony menjadi peneliti WWF Indonesia di Kalimantan Tengah.
Dalam penelitiannya, dia menggunakan Artificial Intelligent dan UAV untuk mendeteksi objek kecil di sarang orangutan.
Selain itu, Rony juga masih tercatat sebagai dosen di Universitas Palangka Raya, sejak Januari 2005 hingga saat ini.
Rony juga pernah menjadi konsultan di WWF Indonesia dari Januari 2000 hingga Desember 2003.
Rony juga menyantumkan 11 keahlian dan berbagai macam publikasi ilmiah.





























































































































