Judul provokatifnya membuat banyak pengguna tergoda untuk mengklik tanpa memeriksa sumber.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa tautan tersebut tidak mengarah ke pemutar video resmi, melainkan ke situs pihak ketiga yang meminta login ulang atau mengunduh file tertentu.
Pola ini identik dengan praktik phishing dan penyebaran malware ringan.
Risikonya bukan hanya kebocoran data pribadi, tetapi juga potensi peretasan akun hingga kerugian finansial.
Meski ramai disebut memiliki dua versi—17 menit dan 1 menit 50 detik—video Teh Pucuk viral sejatinya tidak pernah terkonfirmasi keberadaannya.
Istilah “Teh Pucuk” hanya dijadikan umpan agar judul mudah menarik perhatian dan cepat menyebar.
Fenomena ini kembali menegaskan pentingnya literasi digital. Di tengah arus konten viral, sikap kritis dan kebiasaan memverifikasi informasi menjadi benteng utama agar tidak terjebak hoaks maupun kejahatan siber.































































































































