Dalam kondisi anatomi seperti itu, pemasangan kateter melalui uretra bisa menjadi sulit. Jika kelainan ini terdeteksi saat prosedur tersebut, tampaknya tim medis saat itu memilih untuk tidak melakukan intervensi.
Dalam kasus ini, tidak ditemukan adanya uretra yang berujung buntu (blind-ending urethra), yakni saluran kencing yang berakhir pada kantong tertutup.
Karena itu, pria itu kemungkinan tidak mengalami infeksi serius akibat kondisi tersebut.
Namun, para peneliti menyebut ia mungkin saja mengalami gangguan fungsional, seperti infeksi saluran kemih, disfungsi ereksi, masalah kesuburan, atau bahkan nyeri saat berhubungan seksual akibat potensi ereksi pada penis sekunder dan tersier.
Secara biologis, penis berkembang dari struktur embrionik yang disebut genital tubercle dan dikendalikan oleh hormon DHT (dihidrotestosteron).
Kelainan genetik yang memengaruhi ekspresi reseptor androgen dapat memicu kelainan morfologi genital.
Dalam kasus ini, peneliti menduga terjadi triplikasi genital tubercle. Uretra awalnya berkembang di penis sekunder, namun karena organ tersebut gagal berkembang sempurna, saluran uretra akhirnya beralih dan berkembang pada penis utama.
Sementara penis tersier diduga merupakan sisa dari proses triplikasi tersebut.
Karena banyak kasus tambahan penis tidak menimbulkan gejala dan baru ditemukan pada jenazah, tim peneliti menduga kondisi ini mungkin lebih umum daripada yang selama ini diperkirakan, hanya saja tidak terdeteksi.
Para peneliti juga menyoroti perlunya sistem klasifikasi medis yang lebih baik untuk kasus penis tambahan.
Menurut mereka, perbedaan klinis dan kebutuhan medis tiap kasus harus diakui agar penanganan bisa lebih tepat.
Temuan ini bukan hanya menambah literatur medis tentang kondisi langka, tetapi juga membuka diskusi lebih luas soal bagaimana kelainan bawaan yang tersembunyi bisa saja luput dari perhatian sepanjang hidup seseorang.

























































































































