Oleh: Riza Mulia
Bulan ramadan kembali datang menyapa, kita masih diberikan izin untuk menyambutnya dengan penuh syukur dan gembira. Ada orang-orang yang sebelumnya masih bersama kita, qadarullah pada ramadan tahun ini sudah tiada dan kembali ke hadapan-Nya. Tentu mereka yang telah pergi meninggalkan dunia ini sangat ingin kembali ke dunia untuk berama saleh.
“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. QS. As-Sajdah: 12
Kita yang masih diberikan umur dan kesehatan patut menyikapinya dengan penuh rasa dan sikap bersyukur kepada Allah. Salah satu cara yang bisa kita upayakan untuk meningkatkan rasa syukur di bulan ramadan ini yakni mengevaluasi diri dari pelaksanaan puasa tahun sebelumnya. Apakah praktik ibadah puasa kita sebelumnya telah memberikan bekas ketaatan kepada Allah atau tidak.
Di bulan penuh agung dan berkah tersebut kita digembleng selama sebulan penuh untuk tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengendalikan diri dari sikap-sikap yang dapat menggugurkan pahala puasa. Misalnya, menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang, tidak menggibah, tidak melakukan perbuatan yang sia-sia, hatta menjaga pikiran dan hati agar tidak melenceng selain dari mengingat Allah semata. Imam Al Ghazali menyatakan, yang terakhir disebutkan adalah golongan orang-orang yang berpuasa tingkatan paling tinggi yakni puasa khusus yang melibatkan hati (khawasul khawas).
Banyak orang yang berpuasa, namun hanya merasakan lapar dan haus semata. Mengapa? Karena tidak menjaga dan mengawal diri dari perbuatan-perbuatan yang disebutkan di atas. Tak heran empat belas abad silam rasulullah saw, mewanti-wanti umatnya agar tidak sia-sia berpuasa.
“Betapa banyak orang yang berpuasa,” demikian diriwayatkan oleh An-Nasa’i, “namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Berarti ada yang lebih penting dan berharga dari sekadar merasakan lapar dan dahaga, yakni ketakwaan.
“Wahai orang-orang yang beriman,” seru Allah di dalam surat Al-Baqarah ayat 183, “diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa bukanlah predikat yang dapat diperoleh begitu saja tanpa ikhtiar yang bersungguh-sungguh dari orang-orang yang berpuasa. Perlu keserasian taat antara hati, perasaan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.























































































































