BANDA ACEH – Sejumlah warga Palestina di Jalur Gaza masih skeptis bahwa Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump akan mampu mengakhiri penderitaan dan melepaskan mereka dari cengkeraman kontrol Israel. Hal itu tak terlepas dari partisipasi atau keanggotaan Israel dalam dewan tersebut. Jamal Abu Makhdeh (66 tahun), warga Gaza yang kini tinggal di kamp pengungsian di Deir el-Balah adalah salah satu yang meragukan Dewan Perdamaian. Hal itu termasuk rencana mereka merekonstruksi Gaza.
“Mereka tidak akan melakukan apa pun untuk Gaza. Itu semua bohong. Apa pun yang disetujui Israel tentu tidak akan menguntungkan kami” kata Abu Makhdeh, dikutip laman Aljazirah, Jumat (20/2/2026).
“Trump, bersama dengan Israel, ingin menggunakan Dewan Perdamaian untuk memaksakan keputusan mereka kepada dunia dengan paksa. Ini tentang kekuasaan, kendali, dan dominasi, tanpa memperhatikan negara-negara yang lebih lemah seperti kami,” tambahnya.
Awad al-Ghoul (70 tahun), warga Gaza yang mengungsi dari Tal as-Sultan di Rafah dan kini tinggal di tenda di kota az-Zawayda, turut meragukan Dewan Perdamaian bentukan Trump. Hal itu karena dia melihat bagaimana Israel masih membombardir Gaza hingga kini. Padahal gencatan senjata telah disepakati sejak Oktober 2025 lalu.
“Israel membunuh, membom, melanggar perjanjian gencatan senjata setiap hari dan memperluas zona penyangga tanpa ada yang menghentikannya,” ujar al-Ghoul.
Dia pun mempertanyakan peran Dewan Perdamaian. “Jika Dewan Perdamaian sebesar ini tidak dapat memaksa Israel menghentikan serangannya di tempat kecil seperti Gaza, bagaimana dewan itu akan menyelesaikan konflik di seluruh dunia?” kata al-Ghoul, merujuk pada niat Trump yang menyatakan bahwa Dewan Perdamaian tidak hanya akan berupaya mengatasi konflik di Gaza, tapi juga konflik-konflik internasional lainnya.
Al-Ghoul pun telah mendengar soal dana bantuan yang dijanjikan Dewan Perdamaian untuk Gaza. Dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington pada Kamis (19/2/2026), Trump mengatakan bahwa sembilan negara anggota telah menjanjikan 7 miliar dolar AS untuk dana rekonstruksi Jalur Gaza.
Menurut al-Ghoul, dari sekian banyak dana bantuan yang dijanjikan, hanya sebagian kecil saja akan dinikmati penduduk Gaza. “Sisanya akan menjadi biaya administrasi dan gaji mewah untuk pejabat tinggi dan presiden. Sebagian kecil akan datang ke Gaza agar mereka dapat mengatakan bahwa mereka mendukung Gaza dan membenarkan kelanjutan klub mewah mereka yang disebut Dewan Perdamaian,” ucapnya.
























































































































