“Jadi proyek ini gagal sejak awal dan visinya tidak jelas, seperti kegagalan yayasan distribusi bantuan yang didirikan oleh Amerika setahun yang lalu, yang menjadi jebakan maut bagi ribuan orang,” tambah al-Ghoul.
Bagi al-Ghoul, rekonstruksi Gaza bukanlah prioritas jika Israel terus melanggar gencatan senjata. “Rekonstruksi tidak ada gunanya jika tangan Israel terus menghancurkan dan membunuh. Apa gunanya membangun kembali sementara Israel terus menghancurkan?” ujarnya.
Dia menambahkan, apa yang diinginkannya adalah kehidupannya sebelum Israel memulai agresinya pada Oktober 2023. “Tuntutan saya adalah untuk kembali ke lingkungan saya di Rafah, yang telah diduduki selama satu setengah tahun, meskipun di dalam tenda,” kata al-Ghoul.
“Yang terpenting adalah tentara (Israel) mundur dan kami kembali ke tempat kami,” sambungnya.
Sementara itu Amal Joudeh (43 tahun), warga Gaza yang mengungsi dari Beit Lahiya ke Deir el-Balah, mengaku telah mendengar adanya penggalangan dana untuk Gaza oleh Dewan Perdamaian. “Tetapi kami tidak melihat apa pun. Ini sudah terjadi berkali-kali, tetapi tidak ada yang pernah berubah,” ucapnya.
Joudeh mengungkapkan rumahnya telah hancur akibat agresi Israel. Suami dan anak-anaknya juga mengalami luka-luka. Dia sangat berharap kehidupannya dapat kembali sebelum Israel mulai membombardir Gaza pada Oktober 2023.
“Kami menginginkan dukungan atau rekonstruksi apa pun… solusi apa pun,” kata Joudeh.
Kelompok Hamas mengatakan, setiap proses Politik di Jalur Gaza dan kesepakatan masa depan Palestina harus dimulai dengan penghentian agresi dan jaminan atas hak menentukan nasib sendiri. Hal itu disampaikan Hamas saat negara anggota Dewan Keamanan bentukan Presiden AS Donald Trump melakukan pertemuan perdana di Washington pada Kamis (19/2/2026).
“Setiap proses politik atau setiap kesepakatan yang dibahas mengenai Jalur Gaza dan masa depan rakyat Palestina kami harus dimulai dengan penghentian total agresi, pencabutan blokade, dan jaminan hak-hak nasional sah rakyat kami, terutama hak mereka atas kebebasan dan penentuan nasib sendiri,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan pada Kamis malam, dikutip laman Al Arabiya.
Hamas merilis pernyataan itu saat negara-negara anggota Dewan Perdamaian melakukan pertemuan perdana di Washington. Donald Trump selaku Ketua Dewan Perdamaian memimpin pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan perdananya, sejumlah negara anggota Dewan Perdamaian menjanjikan bantuan dana untuk proses rekonstruksi Gaza. Selain itu, beberapa negara juga menyatakan siap menyumbang personel keamanan untuk bergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional di bawah naungan Dewan Perdamaian.



















































































































